Sakit ya, kehilangan Cinta?

Sakit ya Kehilangan Cinta?

Hem…

Aku udah lupa bagaimana rasanya.. habisnya Cintaq udah selalu bersamaq nich,, wew… Guombal Mukio!!!

Gini lho, tak jelasin dulu say, jangan salah sangka dulu, bukannya aku sombong dan berbangga diri udah mendapatkan cintaq, tapi ini aku jadikan awal yang indah untuk tulisanq ini!

Kalo ada wartawan nanyain aku,”Mba Mischa, pernah gag sakit karena urusan Cinta?”

Aku jawab gimana ya? Gini aja ya jawabnya “Udah Lupa Tuh!” Glodak!!! Gag boleh ya dijawab gitu?. “Yup… Honestly..pernah donk, secara aku juga manusia berhati kaya kalian!”.

Kalo aku kisahin Perjalanan asmaraq,, panjang banget deh,,”Hayo..kalian mau yang Versi mana?”

Ini aja ya,, versi “Mischa di bangku SMP – SMA”

Oke deh,, cek it out!

Katakanlah Namanya Reivan.

Aku mulai mengenalnya saat kelas 3 SMP.Doi masih Cinta Monyetq, bukan cinta pertamaq lho…, Tapi kisah ini wajib aku ceritakan.”Kalian tauw kenapa?”, “Karena aku yang pengin cerita, gag bisa ditahan nich, jadi I Must telling this story!”. Maksa banget kan? Biarin ah,, PEDE aja kaleee!

Tinggi Besar,Ganteng,uwh… pokoknya beda lah ma teman2q cowok yang lain. Waktu kelas 1 dan kelas 2 aku gag pernah ketemu dengannya. Mungkin pernah, tpi aku lum Ngeh sama Doi.”Lagian kan aku dikelas unggulan,jadi gag mungkin donk, main ke kelas yang biasa2 ajaw!”. Wakakakaka… gue mulai sombong Sodara-Sodara!

Sejak kami saling mengenal, aku n dia sering ngobrol berdua, dapet jadwal piket yang sama, sehingga pulang telat juga bersama. jika dikelas ada tugas kelompok, Rei pasti Selalu ada dalam kelompok belajarku, sehingga dia sering datang kerumahku juga, Aku dan dia juga mengikuti kegiatan Extrakurikuler yang sama, sehingga.,,….(Zzzzttttt, sesungguhnya, aku yang mengatur semua2nya,gampanglah ngatur jadwal piket, tugas kelompok, kegiatan extra,etc.. kan aku ketua kelasnya, HU-hu-hu jadi itu bukan kebetulan BELAKA say!!!)

Sungguh, aku ,,,ah, aku tak berani Ungkapkan saat itu Rei!

Rei, Aku masih ingat hari2 yang cukup indah itu,,

Pernah suatu hari,,

hari Kamis sorekan Rei..

Waktu itu ujan rintik – rintik.

Kita pulang berdua naik sepeda,

jalan beraspal ini Rei,,yang kita lewati,

teramat sepi,,

sehingga lagit dan dunia seakan hanya berisi tawa canda kita!”

Singkatnya teman – teman, aku semakin merasa, Rei juga ada Something sama aku, hubungan kami juga semakin dekat. Rasa – rasanya kalo sekedar sahabat, kayae udah lebih deh!

“Hei, aku mau Tanya sesuatu ma kamu!” Tanya Yani teman sebangkuku kala itu.

“ Apaan?” jawabku kurang serius.

“ Mis, kamu suka ya ma Rei?”

“ Ah, sok tau lu Yan..!”

“Gag usah bo’ong Mis, aku tau kamu lagi kasmaran ma Rei, tingkah lakumu keliatan kale!”

Idih..kalo sudah kepentog kaya gini, aku gag bisa Bohong lagi lah ma Yani.

“Iya Yan, aku suka ma Rei. Dia tu…..emhmmmmmmmmmmmm banget!” jawabku sambil cengingisan.

“ Emberrr maksudmu??”

“ Cakep kan Yan?, Gag ada dekil – dekilnya sama sekali, beda tu ma yang sebelahnya,apalagi ma Agung tu,,!” Aku menoleh kea rah Agung. Dan…Astajim,,agung langsung S3 padaku.NB: S3 tu artinye ( Senyam Senyum Sendiri). Gabruk.. ! “tu liatin tu,, Agung GR kan Yan?”.

“ Woalah Mis, emang kamu gag tau ta, dia tu penggemar Rahasia buat kamu lho!”

“idihhhh…OGAH!” Jawabku sambil menjulurkan lidah kea rah Agung, lalu mengalihkan pandangan dan melemparkan senyumku pada Rei,,lalu…lalu.. Owwwww,,Rei tersenyum juga sodara – sodara. Senyumaannya membuat Gol dihati ini!Sungguh sejuknya…

“Woi,, ngapain lu merem melek kaya orang gila gitu Mis??”

“S..s..tttt,, daku lagi ngelamun nich!. Don’t Disturb me, Okey!!!”. Centilku mulai kyumat deh!

“ Mis, ada yang harus kamu tau tentang REi, ini penting!”

“Sepenting masa depanku kah Yan?”

“ Ya ngga segitunya kale”

“ Gag usah bilang deh kalo gitu. That’s not too Important for my life..!”

“ tapi kamu harus tau Mis!”

“ Apaan?,

Rey gag Panuan kan?….

Rey anaknya culun gitooh?

Rey Punya bapak Baru ya?

Kalo itu,, semua –mua aku udah tau!” kataku sambil menepuk dadaku dengan penuh bangga.

“ Rey udah punya Cewek!” Kata Yani secepat kilat.

Aku yang tadi menepuk dadaku,, berangsur –angsur berubah megelus dada. “Sabar..sabar..tenang..tenang!” Kataku pada diriku sendiri

“Kamu gag bohong Yan? Kamu dapet gossip dari mana?, kog aku gag pernah mergokin dia jalan ma ceweknya, ato ngapelin dikelasnya gitu!”

“ Ini bukan gossip Mis, Nyata!! Percaya deh!”

“dari siapa kamu tau Yan, kenapa Rey gag pernah cerita?”

“ Emang, siapanya Rey lu?” Jawab Yani dengan nada ejek

“ Oh my God Yan, aku gag percaya!”

“ aku tau dari anak – anak kelas 3 De.”

“ Eh,, biarin ah, Rey udah punya cewek, kan bisa direbut!” kataku bersemangat lagi

“Emang dia mau sama kamu?”

“Em…” sedikit aku ragu sambil garuk – garuk kepala.

“ Ceweknya tu si Tifa, kamu kan tau toh anaknya yang mana!”

“Deg!” Jantungku sedetik berhenti berdegub( Jangan lama – lama ya berhentinya,, ntar akuy gag bisa nulis ni cerita lagi!)

“ si Tifa, Model itu Yan?”

“Iye!”

“ anaknya Tinggi,PUTIH,dan cantik?”

“Iyee..”

Yach… kalah,,..!”

“Nah lu, sadar!, sekarang kamu pendam rasa itu. Aku gag mau ya, sahabatku ogah-ogahan belajar gara-gara cowok. Ntar kalo ulangan aku nyontek siapa coba?” Hibur Yani padaku.

Seluruh tulangku rasanya lemas. Aku hanya bisa menumpukan kepalaku pada kedua tanganku. Pengin nangis sebenarnya, tapi enggak ah, malu…Biasanya kan aku galak ma teman – teman. Masa ini nangis sich. Gag,enggak.

Aku kuatkan hatiku dan bertanya lagi pada Yani yang sibuk membaca Novel.”Yan, tapi kan Tifa tu udah punya cowok kabarnya!”

“Iya,kan Rey toh cowoknya!”

“Sejak Kapan?”

“Sejak kelas 2 lalu!”

“Lho Yan, bukannya saat itu, gossip yang beredar Tifa pacaran ma kakak kelas!”

“ Benar nona!, tapi si Rey mu itu gag mau diputus. Dia mau kog jadi LLC!”

“aPAan tu?”

“Laki-laki cadangan neng!!”

“ Kenapa akhir –akhir ini Rey berasa dekat banget ma aku Yan?”

“Kenapa ya Mis?, em.. mungkin lu aja yang kePeDean, ato mungkin dia, dia…”

“Apa?”

“Dia manfaatin kamu, supaya dapat Contekan, tugas-tugasnya terselesaikan,Etc.”

“what?, untuk yang satu ini, alas an ini, kata-kata mu ini, aku gag terima..!Masa Rey tega ma aku!”

“Hei nina Mischa, dengarin ya, kan aku Cuma nebak. Untuk lebih jelasnya kamu Tanya aja tu ma Rey.”

“Gila kamu Yan!malu donk aku!”

“Ya udah..aku mau ke Ke kantin dulu. KAMU Patah ati, tapi masih bisa denger Belk an Say?”

“Sialan..” kataku pada Yani, sambil melempar pensilku kearah dia.

Aku penat, gag pengin jajan. Pengin dikelas aja. Ku lihat, semua teman – temanku sudah keluar dari kelas. Rey juga, Oh sakit sekali aku melihatnya.”Di manfaatkan” Kata-kata Yani barusan sungguh nendang nich!”

“Kamu kenapa?” Tiba – tiba suara itu terdengar dari arah belakang.

Ku lihat kearahnya, Ternyata Agung. “Kenapa? Masalah buat Loh! Pergi sono, jangan ganggu aku, aku lagi Semedi!” Teriakku padanya bak singa yang lagi kehilangan bulu idungnya.

Perlahan –lahan dia melangkah keluar.

********************************************************

“Rey, kamu udah berapa lama jadian ma Tifa!” Tanyaku pada Rey, setelah beberapa hari aku tidak menyapanya. Ku kuatkan hatiku saat itu, karena aku gag boleh mendiamkannya tanpa dia tau apa salahnya.

“Tumben kamu Tanya gitu?. Aku ma Tifa, udah kapan ya? Lama sich,, stahun lebih”

“Em, kamu gag takut punya cewek secantik gitu?” Tanyaku lagi

“Kenapa harus takut. Toh, pilihan cewek masih banyak,aku juga bisa milih kamu kan?” Rey menatapku sambil cengngesan.

“Siala,.n,kenapa dia menggodaku lagi!” bisikku dalam hati.

“ Tapi aku gag mau sama kamu!” Jawabku dengan nada lemah

“ kenapa?”

“ Kamu tu nyebelin, kamu tu…. Kamu tu bikin aku bunek!!” kali ini aku berkata dengan penuh energy Ke-emosian yang adil dan beradab.

Rey dan aku saling pandang. Kami diam sejenak.Doan yang bertugas menghapus papan tulispun menengok kea rah kami.

“kamu Kenapa Mis?” Tanya Rey pelan

“ Gag Kena! Kamu tu piket malah bicara yang ngga’2. Sapu tu yang bersih!

Aku berlari kea rah tasku, segera membawa nya menuju ke pintu, Rey mencoba menghadangku, “Kamu ada masalah, cerita ma aku!, kamu lagi putus ma cowokmu?”

“Bukan urusanmu!Kamu gag usah Tanya aku lagi, Egois!”

Aku mendorongnya dari hadapku, dan aku segera pulang meninggalkannya dengan debu – debu yang lebih tau akan perasaan hatiku. Meninggalkannya,dan menghempaskan segala cintaku untuknya.

Hampir Empat bulan berlalu, dan aku sudah tak seakrab dulu lagi dengan Rey, bahkan hampir tak pernah aku menyapanya. Sesekali aku memergokinya pulang berduaan dengan Tifa, berboncengan ala Romantis Galuh dan Ratna. Sempat sebel sich, tapi biarlah. Perasaan itu telah larut bersama iringan Karbondioksida yang keluar dari tubuhku. Aku lebih menyibukkan fikiranku untuk belajar materi EBTANAS yang seabrek –abrek. Saat pengumuman kelulusanpun tiba, aku bahagia sekali, karena aku dan teman sekelasku lulus semua.

Anehnya pada pesta kelulusan itu, aku sama sekali tidak melihat Rey,padahal si Tifa lagi pidato tu di mimbar, mewakili anak –anak kelas 3, melepaskan diri dari sekolah.

Aku gag begitu mendengarkan pidatonya, karena kau lebih asyik berfoto – foto ria denga guru atopun denga adik –adik kelas yang ngeFans ma kau. Hi..hi..hi,aku beneran punya Fans loh, gag bo’ong!

Aku selalu berpesan pada para Fansku, kusunya yang Cewek “Dek, jadi cewek tu yang tegas, jangan mau kalah ma laki-laki, apalagi dimanfaatin. Kalo bisa, kita yang manfaatin mereka!” Orasiku penuh semangat di depan mereka.

“Setujuuuuuuuuuu!”. Mereka pun kompak  untuk mengamini Orasiku.

“ Mischa, Tifa mau ngomong sama kamu!” Suara lembut Tifa mengagetkan aku yang lagi asyik bersalam – salaman ma guru –guru.

“Ya ngomong aja lah Tif, gitu kog susah!” jawabku agak malas.

“Di dalem sini rame banget Mis,keluar yuk. Bentar aja!” Tifa menariku dengan paksa, akupun menuruti langkahnya yang membawaku keluar gedung.

“ Tumben Tif, minta ngobrol ma aku, kita kan gag terlalu kenal ya?”

“ Iya Mis, tapi kita kan tetap teman, walopun beda kelas!”

“teman ya? Ada apa nich Tif?” Tanyaku pada Tifa dengan tatapan yang penuh penasaran.

“ Mis, aku dapat titipan surat dari temanku,eh..sahabatku, buat kamu!”

“Surat?” Duh kalo ini benar surat, baru kali ini aku dapet surat yang gag pernah ku duga – duga datanya.

“Sebenarnya udah tiga minggu yang lalu, sebelum kelulusan, Rey udah nitip surat ini buat kamu.”

“ Reyvan?, kenapa ngasih surat ke aku, bukan kamu? Yang pacarnya kan kamu, bukan Aku”

“ Iya, tapi kami udah putus, lama banget kog,udah sejak kenaikan kelas tiga. Tapi kami masih sahabatan, masih akrab gitu!”

“Lho, bukannya kalian sering boncengan berduaan?”

“ Tu kan, kamu pasti salah terka!, Mis,aku dan Rey selain sahabatn kami tu tetanggaan juga, boleh donk kalo kami pulangnya bareng.” Ucap Tifa sambil menyerahkan surat itu padaku.

Tak terbayangkan olehku bisa berbicara selama ini dengan Tifa, dia memang sangat lembut, pantas saja banyak cowok yang terkintil – kintil pengin jadi pacarnya.

“Mis, kog melamun, suratnya boleh kamu baca. Sumpah Mis, aku belum tau isinya, bila tidak keberatan, kapan – kapan certain apa isinya ya Mis!”

“ Iya, Tif. Aku bacanya dirumah aja ya, ini aku pengin nglanjutin foto – foto ma teman2 dulu!”

“ Okey deh, ya udah kita balik ke dalem yuk!”

“ eh, kog aku gag ngeliat Rey ya akhir – akhir ini!”. Aku berkata sambil menghentikan langkahku.

“Em.. Mis, Rey dan ibunya udah pindah ke Mesir, sekitar tiga minggu yang lalu. Ayah  Rey, dapat beasiswa untuk Study S2 ke Mesir, jadi mereka ikut menyusul ke sana. Nggak banyak kog yang tahu, paling tetangga dekatnya aja.

“O gitu ya” Jawabku tidak bersemangat.

Sepulang  acara Pesta kelulusan dan perpisahan, aku segera masuk kamar. Aku suda tidak sabar membaca surat dari cowok nyebelin ini.Hem,,ada yang aneh dalam hatiku, aku agak gimana,, gitu membuka surat dari Rey. “Ingat Mis, lu gag boleh benci lagi ma dia, dia kan udah gag ada di Indonesia, jadi gag bakalan deh lu ketemu lagi ma dia” Bisik hatiku padaku.

“Ga bakal ketemu lagi ma dia?” Kata – kata itu tiba – tiba terlontar begitu saja dari mulutku. Kayaknya ini deh yang dinamakan perasaan sedih dan terharu, aku gag bisa menahan lagi, aku harus.. aku harus menangis….!!!

Hai Mischa,

“Matahari di hatiku terbit kembali ketika aku melihat mata itu

Mata yang membawaku terbang entah kemana

Dan akhirnya, aku Kecewa!”

Ingat Puisi yang peernah kita buat waktu kerja kelompok lalu??

Nah,  kalo pakai surat gini, aku merasa bisa ngobrol lagi dengan kamu. Aku tak lagi merasa di acuhkan olehmu!

Terakhir kita bercanda ria kapan ya? Kamu pasti lupa! Aku ngga lupa kog Mis, waktu piket itu, kamu marah – marah ma aku, tanpa kau tau sebabnya, yang ku tau akibatnya, kamu gag semanis dulu lagi ma aku. Aku sempat bingung dan gag tau kenapa. Awalnya aku menganggap kamu bercanda saja seperti biasanya. Ternyata tidak.  Kamu benar – benar tak lagi mendekat denganku.

Apa kamu marah padaku karena aku benar – benar nyebelin? Ah, sepertinya tidak,

Ataukah  kamu marah padaku karena kamu tau hubungan ku dengan Tifa?

Apa kamu marah padaku karena aku tak pernah memberi taumu tentang Tifa?

Atau jangan – jangan kamu marah, karena kamu tau aku menyukaimu?Mencintaimu?

Atau kenapa ya? Ah sudah lah Mis, aku benar – benar gag tau alasanmu. Yang ku tau sampai saat ini aku masih “suka,Cinta…” ma kamu.

Aku ingat benar, bagaimana ekspresimu saat menanyakan tentang Tifa padaku,kamu seperti cemburu. Benarkan Mis?, kamu jangan salah Mis, aku dan Tifa tu memang sempat pacaran, tapi ngga lama, karena aku sadar, aku tu cuman sayang ma dia sebagai sahabat. Maklum lah,, kami sudah berteman sejak kecil.. Jadi kami memutuskan untuk jadi sahabat aja, ngga lebih. Kalo kamu ga percaya, kamu boleh tanyakan Tifa tentang ini. Emh.. lega rasanya bisa menyatakan rasa ini padamu Mis, walaupun gag  terbalas, gag papa, yang penting kamu udah tau perasaanku ke kamu. Perasaan ini sudah ingin ku ungkapkan saat kamu menanyak tentang Tifa waktu itu, e.. kamunya malah marah. Aku bingung dan ku pendam Cinta ini, tak ku beritahukan ke siapapun, termasuk Tifa.

Coba hitung, berapa hari kamu menyikasaku dengan terus mendiamkanku, tanpa ada senyum manis itu buat aku. Ingin ku sapa, tapi kamu selalu menghindar, ingin ku telpon, nomormu udah gag aktif. Ya mungkin ini nasibku ya Mis, gag bisa mendapatkan cintamu.

Dua hari lagi aku akan berangkat ke Mesir Mis, kalo besok siang kamu mau menemuiku di perpustakaan kota, aku akan batalkan kepergianku. Aku bisa tinggal bersama Ayah kandungku dan tetap bersamamu,tapi kalo kamu gag datang itu artinya kamu gag pernah ada perasaan apa –apa padaku, dan aku harus segera belajar melupakanmu Mis.

aku benar – benar berharap Feelingku benar bahwa kamu akan datang.

Sampai Jumpa Besok siang…

Atau Mungkin

Sampai jumpa suatu saat nanti!

Reyvan

“S.E.S.A.L” itulah yang menggelantung di benakku saat itu.

Kenapa baru sekarang aku tau?

Kenapa aku dulu begitu egois?

Kenapa aku begitu saja percaya dengan orang lain?

Kenapa aku justru menyakitinya?

Kenapa?

Kenapa?

Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Husssssttttt,,, sebenarnya dalam atiku yang paling dangkal, aku lebih menyalahkan Tifa, kenapa dia pake tunda – tunda ngasihin surat. Itu kesalahan Tifa, menurut Versi otak Reptileku. Aku juga nyalahin Reivan, kenapa pake nitip surat ke Tifa segala, kenapa gag langsung dikasih ke aku aja?. Tapi akhirnya atiku yang paling dalam, mengakui,, bahwa ini salahku sendiri. Butuh waktu hamper satu bulan untuk berhenti memikirkan masalh ini. Hanya diam, melamun…

Setiap ada cowok berperawakan besar, Tinggi, hidung mancung, rambut lurus, kulit  bersih sawo matang, terawatt,, aku selalu menyangka itu Rey, tapi nyatanya…”BUKAN”

“Sakit ya kehilangan cinta?”

Benar sakit rasanya. Apalagi kalo sebenarnya sudah ada kesempatan untuk mendaptkannya.

“Sudahlah Rey, satu yang pasti

Kau bukan untukku saat ini

Entah esok, atau lusa nanti

Kau akan kembali membawa cintamu lagi

Selamat Jalan Rey..

Sosokmu akan selalu ada dihatiku…

Hari ini,esok dan Seterusnya!

Pertama kali aku melihat dirinya
Dia sungguh mempesona mencuri hatiku
Tanpa sadar ku telah jatuh hati padanya
Mungkin ini namanya cinta pandangan pertama

Aku pasang senyum manis agar terkesan romantis
Dia pun membalasnya meski sedikit meringis
Sejenak aku ragu untuk teruskan langkahku
Dengan tersipu malu akhirnya ku pun menjauh

Ada apa ada apa denganku, salah apa salah apa diriku
Selalu saja hatiku meragu oh Tuhan tolong aku

Kalau cinta ya bilang cinta, kalau sayang ya bilang sayang
Jangan ditunda-tunda nanti diambil orang
Kalau cinta ya bilang cinta, kalau sayang ya bilang sayang
Jangan berpura-pura nanti kau kesepian”

Penta Boys: Sayang Bilang sayang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s