Cinta kan Berpulang Padamu

Sunyi berbunyi, sepi menepi

Lara termakan bara…

Sendiri diriku dimakan haru

Luka duka telah kupaksa terlupa dari hati..

Rinduku kian berat menyapa,

Bergelut perasaan dengan air mata..

Kalori di dalam diri entah menguap kemana

Terdiam, terhuyung..

Betapa nista..

Namun diri tetap kukuh, teguh

Menanti Cinta nan jau disana

Dan surut hatiku pun mulai rapuh..

Tak tahu kemana kini,, rinduku akan berlabuh

 

20 Noph 2008/ to Kakandha

 

Yukha tak juga bangkit dari tempat tidurnya, padahal jelas–jelas jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul tujuh. Sebenarnya, bukan tanpa alasan jika anak gadis Pak Sungkono ini menjadi malas–malasan pagi ini. Semalam dia tidak bisa tidur dengan pulas, fikirannya tak tenang, ada rasa gundah, sesal, takut, dan otaknya selalu flashback pada kenangan–kenangan indah yang ia lalui beberapa bulan ini.”Kenapa harus takut dengan kenangan itu Yukha?” . kalau ditanya seperti itu, ia pun tak tau harus menjawab apa. “kenangan yang seharusnya tak pernah ada dalam kehidupannya. Ini bukan salah siapa–siapa, ini hanya tahap hidup, yang memang harus ia lalui” . Tapi, ah, Angin kencang yang super dingin malam itu juga mampu menerobos tembok kamarnya, sehingga susah sekali rasanya ia untuk bangkit.

“Yukha…, bangun!!!” suara Ibu Yukha,mulai mengusik telinga Yukha.

Mau tidak mau,ia harus menyaksikan pagi yang tak bercahaya itu.

“ Iya Bun, Yukha dah bangun kog!”

“Ya udah, cepet mandi, ntar kalo kamu punya suami, jangan males kaya gini ya!” Kata Ibu Yukha,sambil berlalu meninggalkan kamar Yukha.

Yukha membuka jendela kamarnya. Dadanya sesak melihat keadaan sekelilingnya, yang masih gelap tertutup mendung dan rintik hujan yang enggan berhenti.

 

pagi disini menangis,,

tak seindah biasa..

semalam pun tanpa bintang

sang Ratu malam,, tak berani keluar dari pingitan

saat ini,, mentari benar – benar mengalah dengan pagi

ia tak ingin menggagu rintik hujan yang sedang berlomba – lomba untuk menyerbu Duniaku

satu yang pasti dan masih tersisa..

Namamu di hati, wahai Paduka”

 

 

“Honey, bagaimana jika kamu benar – benar sayang aku, dan tidak bisa melepaskan perasaanmu?” Tanya Abi pada Yukha.

Ombak di pantai Karang Bolong, yang cukup lincah membelai kasar kaki Yukha, seperti pertanyaan Abi yang ia dengar ketika itu.

“Kamu minta jawaban apa Bi?” Yukha menatap Abi lekat–lekat.

Laki–laki yang ia kenal sejak tiga tahun lalu, yang selalu menemaninya dikehidupan mayanya, kini tengah menatapnya penuh arti di hadapan nyata. Tak pernah terbesit oleh Yukha bisa menatap lembut mata teduh Abi. Laki–laki yang selama ini hanya mampu ia temuni di Web Cam, mendengar suaranya lewat ponselnya, atau menemani chating Yukha hingga dini hari. Iya laki–laki itu, Abi namanya. Jauh–jauh dari Magelang, ke Serang hanya untuk bertemu dengan kekasi khayalannya, Yukha Karindra. Yukha terlampau terbiasa dengan Abi begitu juga sebaliknya.

“Yukha, aku sayang sama kamu. Kita udah kenal tiga tahun Kha, tapi sebulan yang lalu aku baru bisa ungkapin perasaanku ke kamu, dan kamu juga baru jujur ma aku saat itu.Dan….”

Abi menghentikan kata–katanya. Ia meraih ranting kecil yang terayun–ayun terhempas Ombak. Menggenggamnya, lalu mengaiskannya di atas pasir yang terhampar luas. Goresan hati membingkai jelas guratan-guratan namanya dan Yukha.

“Dan apa Bi?” Yukha menghampirinya, lalu memberanikan diri untuk memegang tangan Abi. Ia tidak peduli dengan wisatawan yang lain, yang berlarian kesana–kesini bermain air atau sekedar berfoto. Ia benar – benar ingin total menikmati hari ini dengan orang yang di sayanginya, orang yang benar – benar bisa ia cintai 100%, walaupun hanya berawal dari dunia Maya.

“ Dan terlambat kan?” Tanya Abi pelan.

“Apakah ada kata terlambat untuk menyayangi Bi?”

“Tapi kamu, aku..?. Kita sudah sama – sama udah tunangan Kha!”

Yukha kembali menatap Abi, ia melepaskan genggaman tangan Abi.

“Iya Bi, aku harus sadar. Tidak boleh ada yang terluka karena kita kan?”

“Yukha, apa kamu juga sangan mencintainya?”

“Aku…aku tidak bisa menjawab sekarang Bi!”

“Kalo kita masih sama – sama sendiri, kamu mau sama aku?”Tanya Abi sambil tersenyum kecil pada Yukha.

Yukha membalas senyum itu,

“Ogah!!!” Jawab Yukha, sambil menjulurkan lidah. Ia berjongkok sebentar, dan menyibakkan air, ia arahkan pada Abi.

“Yukha.. kamu,ih….!!” Abi berteriak sambil tertawa kecil, lalu berlari mengejar Yukha yang berlari menjauh. Main kejar – kejaran ala anak SMA yang baru jadian, itulah yang Abi dan Yuka rasakan saat itu. Mereka bergandeng tangan, duduk berdua di tepi pantai, minum kelapa muda bersama, naik banana Boat bersama dan menikmati indahnya pertemuan terakhir mereka di hari itu.

Mereka pun akhirnya terpisah untuk menuju ke kota masing – masing.

“Thanks ya Bi, aku tidak pernah mengalami masa – masa indah ini sebelumnya!” Ucap Yukha pada Abi sebelum ia menaiki Bus tujuan Cirebon.

“Sama – sama, kalo boleh jujur, dia juga tidak pernah menemaniku seperti ini Han”

“Bi,, seandainya..” Yukha menhentikan ucapannya.

“Seandainya, kita memutuskan untuk bersama kamu mau Han?” Tanya Abi melanjutkan pertanyaan Yukha

“Ngga bisa Bi, Ade terlalu baik untuk di jahati, begitu juga Mbak Immy mu itu”

“Kamu benar Han, tapi, aku sayangnya ma kamu, Honey ku!”

“Ya, aku juga merasa seperti itu, tapi tenang aja bi, kita akan melupakan ini,cinta ini, seiring berjalannya waktu.”

“Nggak, nggak boleh Han!, kamu mau melupakan aku?kamu akan berhenti menyayangiku?”

“Bi, aku boleh request satu hal ke kamu!”

“Apa?”

“Kamu bisa datang ke pernikahanku?”

“Bulan depan ya?”

“Hm…!”

“Apa kamu bisa mendatangi pernikahan orang yang kamu sayang Han?”Tanya Abi,sambil menatap kedua mata Yukha yang sudah mulai basah itu.

Yukha menggelengkan kepalanya dan ia menggenggam tangan Abi lagi.

“Bi, ini tidak teakhir kita ketemu kan?”

“Semoga begitu Hany, em… Hany kalo aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin kita bertemu lebih awal, dan kamu memilih aku dulu, dari pada Ade!”

Yukha tersenyum, dan mengeratkan pegangan tangannya ke Abi.

Bus sudah mulai bergerak. Yukha melambaikan tangannya pada Abi dan melihatnya berdiri di tempat yang tadi, jauh, semakin jauh, hingga akhirnya benar – benar tak terlihat lagi.

 

 

“ cHAyankq, Miss U” Yukha membaca SMS dari Ade yang baru saja masuk ke ponselnya. Yukha segera membalasnya dengan agak malas. “Miss U too dha, tinggal 2 Minggu?” balas SMS Yukha

“Hem.. gag sabar ya jadi Nyonya Ade ? aku ke rumah Minggu depan, kalo mama papa pas hari H aja,Undangan beres kan?”

“ Siip, all is well! “ jawab Yukha singkat.

Terbayang lagi kata – kata menikah di benak Yukha. Apa benar – benar ia akan menikah dengan Ade, mengapa rasa cinta untuk Ade sudah tidak ada. Rasa itu sudah menguap entah kemana, atau sesungguhnya Yukha baru sadar bahwa selama ini, ia hanya kagum dengan Ade? Yukha bertanya – Tanya sendiri pada hatinya. “Ingat Yukha, orang tuamu sangat menyukai Ade, bukankah kamu juga sangat mencintainya?” Yukha bertanya pada dirinya sendiri.

“ benarkah itu cinta? Atau…. Apa? Kalau itu Cinta, lalu apa nama perasaan yang indah yang kamu persembahkan pada Abi?” Yukha benar – benar risau dengan pertanyaan – pertanyaan yang ia lontarkan pada hatinya sendiri. Ia mencoba flashback ke masa – masa awal pertemuannya dengan Ade dulu, ketika Ade magang di salah satu Perusahaan Perminyakan yang berada di kotanya, tanpa sengaja ia bertemu, tidak berapa lama akrab, lalu Ade langsung melamarnya, sebelum Ia kembali ke Palembang. Setelah itu, jarang sekali Ade berkunjung ke Cirebon, seringnya Mereka hanya bertelfonan, SMS-an, atau Yukha yang di undangnya ke Palembang untuk menghadiri acara keluarga, dan.. Itupun tidak berlama – lama, karena orang tua Yukha, tidak terlalu suka jika anaknya menginap di Palembang lebih dari sehari. Yukha tersenyum kecil, mengingat kisahnya dengan Ade. “Apa mungkin dulu aku terlalu terburu mnegiyakan Ade ya?” Tanya nya lagi pada dirinya sendiri.

 

“ I love you,hu I love you….”Terdengar alunan lagu OST Film korea My Fair Lady yang berasal dari Hp nya.

“Hallo, Abi, ada apa?” Tanya Yukha pada Abi di telfon.

“Kamu gag kangen ma aku?” Tanya Abi yang seakan akan mengharuskan jawaban Iya dari mulut Yukha.

“Kangen Bi, kamu apakbar hari ini?”

“Tadi pagi disini mendung Han, hujan gerimis, aku ingat di Cirebon sana, ada gadisku yang sangat benci dengan cuaca ini.”

“ Bi….kamu tau, disini juga hujan Bi, tadi pagi sampe gag pengin bangun!”

Yukha sangat terhibur dengan suara Abi, rasanya tidak ada lelahnya Yukha tersenyum dan tertawa mendengar suara Abi di jauh sana. Satu yang pasti, yang telah Yukha rasakan, Yukha sangat nyaman bersama Abi. Laki – laki itu sungguh pandai menguasai fikiran dan suasana hati Yukha.

 

 

“Yukha,sampai kapan kamu bisa menemaniku seperti ini?” Tanya Abi kepada Yukha.

Gadis cantik itu duduk di batu kecil, sambil menikmati indahnya pemandangan di Gunung Ungaran Candi Songo, Semarang. Ia tersenyum kecil pada Abi, “Abi, menurutmu, mengapa aku bisa sayang ma kamu?” Tanya Yukha pada laki – laki berjamper hitam itu. Abi yang dipandanginya hanya mengangkat bahunya dan bergeleng kepalanya. “Abi, Delapan hari lagi aku akan menikah, dan aku masih bisa – bisanya menyetujui ajakanmu untuk pergi di tempat ini, aku ini kenapa begini Bi?” Yukha bertanya lagi pada Abi. Ia menatap ke langit luas, dan memperhatikan setiap gerak awan putih yang membentuk panorama keindahan dunia.

“Yukha, kamu sayang aku, aku sayang kamu, apa rasa sayang itu salah. Menurut ku yang namanya Sayang, Cinta itu gag harus memiliki kog, gak harus berhubungan fisik, kamu simpan di hati saja sudah cukup bagiku Yukh!”

“Abi, ini pertemuan terakhir kita! Aku harus segera melupakan mu Bi. Ini yang terakhir!”

Yukha mulai menitikan air mata

“Please Yukh, don’t Cry! Jangan kamu menangis didepanku Yukh!”

Yukha menganggukan kepala. Ia berdiri dan mendekat lalu memeluk Abi erat.

“Love You Bi, Iam sorry , I must Losing you from my Live!”

Abi membalas pelukan itu, dan mengusap rambut Yukha.

“Love You too Honey ku, lupakan aku, gag papa, asal kamu jangan pernah menangis ya!”

Yukha melepaskan pelukan Abi,ia menarik panjang nafasnya, lalu menghembuskannya perlahan, seiring dengan membuang pelan – pelan perasaanya ke Abi.

“Abi, datang ke pernikahanku ya, ajak tunanganmu, dan bulan depan aku akan datang ke pernikahanmu!”

“Aku gag bisa Yukh!”

“Kalo kamu menyayangiku, kamu akan turut mendoakan aku Bi, tapi kalo sekiranya dalam hari – hari ini, kamu sudah bisa melupakan aku, Its Oke, kamu gag usah hubungi aku,kamu gag usah datang ke pernikahanku. Dengan begitu, kamu juga telah membantuku untuk melupakanmu.” Yukha menatap Abi dengan senyum yang jelas dibuat – buat.

“Itu Ultimatum Yukh, siksaan!!”

“Datang Bi, bawa aku lari!” Ucap Yukha dengan tatapan wajah penuh keseriusan.

Abi tersenyum dan mengecup kening Yukha. Satu kecupan yang belum pernah ia dapatkan dari laki – laki manapun.

 

Yukha segera pulang, Ia menuju stasiun Tawang, lalu naik Gumarang dan menuju ke Cirebon. Berat sekali Yukha meninggalkan hari ini, hari yang sepertinya akhir dari kisahnya denganAbi. Yang tak kalah berat adalah barang belanjaannya, Bawa Baju kebaya buat Ijab nanti, Hijau warnanya, Abi yang pilihin. Beli Souvenir dari Bring harjo,, Abi juga yang pilihin.

 

“Satu Hari melupakanmu!” Target itu Yukha ukir dalam – dalam di hatinya.

Langkah pertama pagi ini.Yukha mengambil Hp nya, pilih menu kontak, lalu ia panggil nama “Cintaq AD”.

Yukha mencoba meyakinkan dirinya, bahwa ia hanya mencintai Ade seorang.Gag yang lain! Abi hanya selingan di titik jenuhnya. “Udha nyampe mana? Udah menuju Cirebon belum?” Tanya Yukha dengan penuh semangat.

“Tenang yank, aku baru siap – siap nich, baju – bajuku banyak nich yang aku bawa, ntar Magrib, mungkin dah nyampe!”

 

Yukha, menjatuhkan tubuhnya ke sofa Hijau yang terletak di sudut kamarnya. Ia melihat Hpnya sekali lagi. “kenapa Abi gag nelpon ya, Tumben!” Ucap Yukha dalam Hati. “Yukha, Ingat, Abi sudah ingin melupakanmu juga. Ayo Yukh, lupakan dia, Ade lah pangeranmu, Bukan Abi” Teriak Cermin diri Yukha pada hatinya.

 

Langkah ke dua, Yukha membuka net booknya, lalu melihat – lihat FB nya, kebetulan ada Dita yang lagi OL,Dita adalah cowok yang ngejar – ngejar Yukha, walaupun tau kalo Yukha sudah bertunangan, namun Dita tetap berbual – bual terhadap Yukha.

Yukha mencoba meyakinkan diri, bahwa Abi sebenarnya hampir sama dengan Dita, mungkin sedikit bedanya Yukha sudah berteman maya dengan Abi empat tahu, tapi kalo Ade baru empat bulan. Disapanya Dita lewat Video Call,, Dita terlihat begitu senang bertemu dengan Yukha, seperti biasa, Dita langsung meluncurkan rayuan – rayuan maut untuk Yukha. Perempuan mana sich yang tidak suka di sanjung dan di rayu. Yukha lumayan terhibur dengan Kalimat – kalimat Ditha, dan mencoba menyimpulkan bahwa perasaannya dengan Abi, mungkin sama dengan yang di rasakan pada Dita. “Hanya pelampiasan” Bisik Yukha pada dirinya sendiri.

 

Yukha beranjak dari kamarnya.Meninggalkan Dita yang masih riang di netbooknya. Yukha ingin mencoba langkah selanjutnya untuk melupakan Abi. Yup.. Shoping,Sudah lama sekali Yukha gag main ke Grage Mall. Ia tancap matic nya menuju ke Grage.

Naik Turun escalator, gag tau mau beli apa, mondar – mandir gag jelas. Yukha menuju pintu keluar Mall, tanpa barang belanjaan apapun. “ Huff.. lumayan capek!” Gerutunya pada dirinya sendiri. Dia tersenyum puas, pada dirinya sendiri. “Yes… Go to the reality Yukh!” teriaknya dalam hati. “ Bye Abi,, I will Forget all about You, I’m Promise!!”. Sepanjang perjalanan Yukha tersenyum – senyum, menghibur hatinya, yang tak bisa berdusta, bahwa masih ada Abi disana.

 

Yukha, menghentikan Maticnya di sebuah Bank BUMN, yang merupakan tempat kerjanya.

“Yukha,, elu udah cuti, ngapain lu kesini?” Sambut Dewi teman sekantornya.

“Gag betah,,dirumah sepi, gag ada kalian yang rame!”

“Hem,, wajahmu kog murung gitu, senyumnya palsu ah, mau nikah kog gitu, kumaha atuh?”

“ hem,, Wi, kamu inget Abi yang aku ceritakan ma kamu dulu?”

“Hem.. Iye, inget kenapa?”

“Aq dah jalan ma dia, jadian ma dia, n sempet sayang ma dia!”

“Nah lo,,,, kena virus cinta tu, ketularan gue!”

“ Aq kan dah punya Ade wi, terus gimana donk ma perasaan ku ini?”

“ Dengar Yukh,itu Cuma sesaat aja. Kalo di awal – awal gini,, lu bakal ngerasa bahagia banget ma si doi, pengennya dia selalu ada, selalu ngubungin kamu, pokoknya nikmatin aja deh Yukh, ntar seiringnya waktu, Virusnya juga bakal mati sendiri! Santai bu,,, atimu akan kembali ke Ade kog!”

Yukha sedikit lega mendengar penjelasan sahabatnya yang sangat berpengalaman dalam hal percintaan itu. Mungkin benar, kesimpulan yang Ia buat, Abi hanya selingan yang dikirim Tuhan, untuk membuatnya terlena dari Ade.

 

Jarum kecil jam dinding di ruangan Yukha menunjukan angka lima, Yukha menatap sinar mentari yang masih Nampak dari kaca ruangannya. Dewi yang sejak tadi memberekan laporanyya tampak cuek dengan kegelisahan Yukha. Kalau Yukha boleh jujur, yang ia rasakan saat ini, ia belum ingin pulang, Ia belum ingin bertemu Malam. terdengar suara Hp Yukha berbunyi. Yukha tersentak dari lamunannya. Ia melihat tulisan di layar ponselnya,”Mas Enda” Bisiknya pelan.

“Hoe,, adek po kabarnyo?” sapa mas Enda, dengan nada berteriak.

Yukha langsung tersenyum menanggapi sikap kakak angkatnya itu. Memang cukup jarang sang kakak angkat yang bekerja sebagai polisi di Medan itu menghubunginya, apalagi setelah beliau menikah, semankin jarang lah Yukha mendapat hiburan gratis dari kakak nya itu.

“Mas Enda, aku kangen. Aku ada masalah mas….!”

Yukha menceritakan masalah perasaannya pada Kakak angkatnya itu. Bukannya di nasehatin, Mas Enda malah ketawa ngakak dengar pengakuan dan cerita dari Yukha.

“Kamu tu Gendeng dek, udah tau Minggu depan mau nikah, pake acara selingkuh lagi,untung aku bukan cowokmu ya?, kalo aku jadi cowokmu Tak Pegat kamu! Wakakkakakakakkka”

“Mas Enda, gitu ih! Aku serius mas!”

“Wong Edan kamu dek!, udah lupain aja, buat Happy Hapy yuk, ni mas setelin music, dengerin ya!”

Yukha menempelkan erat Hpnya ke telinganya, mencoba mendengarkan apa yang Mas Enda puterin untuknya. Yukha langsung terbahak ketika mendengar lagu dangdut “ Masih terngiang di telingaku.. bisik cintamu”

Lagunya Ikke Nurjanah, Versi dangdut koplo.

“Ayo,, goyang dek..” teriak mas Enda di jauh sana.

Yukha mengikuti irama lagunya, dan mencoba ikut bernyanyi bersama kakaknya. Tertawa,menyanyi, tertawa lalu menyanyi lagi, hingga Yukha benar – benar lupa akan Abi.

 

Dia pulang ke rumah dengan wajah yang lebih bebinar.

“Ibun, Ade dah datang?” tanya Yukha pada ibunya

“Udah tuh lagi mandi, kamu gag jemput malah klayapan ajah!”

“Huf,, sorry Bun, mumpung masih belum di larang, hehehhehe!”

 

Yukha masuk ke kamarnya, dan melihat setumpuk barang – barang Ade yang tergeletak di sudut kamarnya. Ia melihat di meja riasnya ada bingkisan bunga warna merah merekah, di hampirinya bunga hias itu, lalu di ciumnya perlahan. “Kamu suka kan bunga nya?” Tanya Ade yang tiba – tiba ada di sebelah Yukha.

“Ampun deh,,, kamu kaya hantu Yank!” Ucap Yukha sambil menatap wajah Ade.

Entah mengapa Yukha merasa jatuh cinta lagi pada Ade, ia memeluknya erat, seakan – akan tidak ingin di tinggal lagi. Sesaat kemudian, Yukha mencium bau tubuh Ade,  parfum yang Ade gunakan, sama persis dengan aroma Abi. “Abi, kamu dimana? Akankah benar – benar kamu melupakanku? Oke, aku juga akan melupakanmu!” Bisik Yukha dalam hati.

 

Malam harinya Yukha menemani Ade menonton  bola, calon suaminya itu sangat gemar menonton bola, apalagi musim piala eropa seperti ini, gag tidur semalaman pun gag jadi masalah untuknya. Lagian, kalopun gag ada bola, Ade juga tetep harus tidur di ruang TV. Ia selalu ingat pesan Ibunda Yukha pada nya. “Biarkan indah pada waktunya nak, jagalah Yukha selalu!”

Jadi ia tak mau tidur di kamar Yukha, karena takut akan terjadi hal – hal yang di inginkan. Dengan wajah yang sayu, Yukha masih melek di sisi Ade hingga tanpa terasa ia pulas tertidur di pangkuan tunangannya itu.

**

Pakaian adat Jawa barat, warna HijauDaun itu menambah gagah sang pengantin laki – laki.Hidungnya yang mancung dan senyumnya yang manis, pasti akan membuat iri setiap perempuan yang hadir di pesta pernikahan itu. Yukha melihat dirinya di depan cermin sekali lagi. Gaun Kebaya nya yang senada dengan sang laki – laki membuatnya Nampak lebih cantik dari biasanya. Ia menuju ke parah sang lelaki, tangannya di genggam erat “Sayank, siap kan jadi istriku?” Tanya Ade pada Yukha. Yukha hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis pada Ade. Para tamu undangan yang hadir tidak berkedip saat kedua mempelai itu memasuki ruang Akad.

 

“Yukha, jangan Yukh..aku mencintaimu!” Teriak seorang laki – laki, yang suaranya sangat Yukha kenali.

Yukha langsung berdiri dan menoleh asal suara tersebut. Para tamu undangan dan Ade pun tak mau kalah cepat untuk menengok ke arah sumber suara tersebut.

“Abi?” bisik Yukha pelan.

“Yukha segera berlari menghampiri Abi, tak elak lagi, seminggu tak mendengar suaranya, tak melihatnya, tak mengetahui kabarnya, Yukha sangat merindukan lelaki itu. “ Yukha, kamu gag cinta sama dia, kamu minta aku untuk bawa kamu kan?, Aku tepati itu Yukh!” Ucap Abi pada Yukha

Ayah Yukha yang berpakaian rapi, langsung menyeret tangan Abi, dan membawanya keluar ruangan.” Kamu Gila, pergi dari sini!” bentak ayah Yukha pada Abi,dengan nada yang penuh emosi.  Yukha mulai lemas, ia menengok ke arah Ade, Ia melihat tatapan Ade yang tampak kebingungan. “Maafin aku De!” bisik Yukha pelan, lalu berlari menyusul Abi.., tamu undangan yang hadir langsung heboh berbisik satu sama lain, Ade pun segera mengejar ke arah Yukha.

“Yukha mau kemana kamu?” Bentak ayah Yukha.

“Yah, Yukha sayang ma Abi yah, Yukha sayangnya sama Abi yah!” teriak Yukha sambil menangis dan menggenggam tangan Abi, lalu segera menyeret tangan kekar itu lari dari hadapan Ayahnya. “Yukha, kita pergi dari sini!” Ucap Abi pada Yukha, mereka menuju jalan raya dan mencari –  cari kendaraan yang bisa membawa mereka pergi.

“Yukhaaaaaaaaa….” Teriak Ade dari sebrang jalan,

Yukha menengok ke arah Ade, sebenarnya ia tak tega melihat lelaki itu, lelaki yang akan menikahinya itu berteriak – teriak memanggil namanya, tanpa ia pedulikan.

Ade terus mengejar mereka,dan ketika hampir saja mendekati arah Yukha dan Abi, tiba – tiba dari arah berlawanan, terlihat oleh Yukha sebuah mini bus yang melaju kencang, dan ia sadar apa yang akan segera terjadi, “ Sitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt,,,,,,,,,,,,,,, Pyakkkkkkkkk, Brak!!!”

Yukha tak sanggup lagi untuk menjerit, seluruh badannya lemas tak Berdaya. Samar – samar dilihatnya Abi yang mulai lari, menjauh, jauh, dan semakin tak terlihat.

Orang – orang di sekitar mulai mengerumuni mereka. Sesaat kemudian ia mengumpulkan energinya, dan mencoba untuk berteriak dan menangis histeris,,”Adeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee,, jangan pergi De,, aku gag mau kehilangan kamu!!” “Adeeeeeeeeeeeeeeeee… bangun!!! Bangun!!”

Yukha mengguncang – guncang tubuh Ade yang berlumuran darah, di peluknya tubuh lelaki itu, ia sudah tidak mersakan denyutan nadinya lagi. “Ade…., jangan tinggalin aku De!!” Yukha berteriak – teriak pilu, orang – orang di sekitarnya hanya bisa melihatnya saja. Airmatanya mengalir, dan sudah tak terhitung lagi banyaknya. “Jangan pergi De…, jangan tinggalin aku de!”

 

Tangis itupun menjadi isakan yang pilu, Yukha tak sadar lagi.

“Yukha,, sayang.. bangun!!”

“Yukha,,,!” laki – laki di sisinya itu mngecup keningnya, dan menggenggam tangannya.

Yukha mulai membuka matanya, nafasnya masih tersenggal – senggal,, sambil terisak – isak.

Ia melihat lelaki di sisinya, dan segera memeluknya erat – erat.

“ Kamu kenapa sayang?” Tanya Ade dengan tatapan yang bingung

“Jangan tinggalin aku De!” teriak Yukha sambil memukul mukul punggung Ade.

Ade masih bingung akan tunangannya itu.

“Sayang mimpiin aku ya? Mimpi buruk ya? Makanya kalo udah pagi tu bangun, jangan males ya sayank!” Ucap Ade sambil mengusap rambut Yukha.

“Aku sayang banget ma kamu De!” Ucap Yukha sambil mengencangkan pelukanya pada Ade,

Yukha benar – benar sadar bahwa ia tidak bisa kehilangan Ade, meskipun ia tidak tau seberapa besar cintanya pada Ade, namun ia sudah terlanjur Biasa ada Ade di sisinya, ada Ade yang menemani saat – saat ia butuh teman,Biasa ada Ade yang mencintainya,dan tidak biasa tanpa Ade,  hm… Walaupun cintanya mungkin terbang kemana – mana, tapi satu hal yang pasti dan selalu Yukha yakini, “Cinta itu akan berpulang pada Ade.”

 

 

 

 

……………………………The End………………….

“dian diam dalam menunngumu”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s