MASJID KENANGAN

KENANGAN DI mASJID

Lantunan ayat suci yang dibacakan anak-anak itu terdengar sangat menyejukkan kalbuku. Tadarus bersama, ya.. kebiasaan masyrakat muda  di kampoung halamanku ini setelah selesai Shalat Tarwih dan witir,. Dari masa ke masa terus berlangsung seperti ini. “ah aku dulu juga seperti mereka!” Ucapku perlahan. Ibu-ibu yang lalu lalang di depanku masih saja mengenaliku dan menyapaku. “Nduk kapan nyampenya?”, “Lho, Entin…Pangkling aku!”, Aku hanya menjawab ringan dan selalu tersenyum menjawab sapaan-sapaan mereka. Mereka masih saja memanggil dengan panggilan kecilku.Mungkin tadi saat aku memasuki  tempat ini mereka tidak begitu memperhatikanku,siapa aku yang berada di antara mereka,Apalagi aku mengambil Shaf  di bagian belakang ,ah biarlah yang jelas mereka masih ramah seperti dulu. Aku mendekap Al-Quran yang tadi ku ku ambil dari Rak buku di sudut utama Masjid, aku membacanya perlahan,berhati-hati sambil mengingat setiap arti ayat yang aku baca pada kitab Suciku ini. “Sodakawllah hul Azim..” Aku mngakihari Tadarusku di hari pertamaku di Masjid ini,Yach paling tidak  sekitar  lima tahun aku tidak Tadarus di Masjid ini. Aku menutup Al-Quran yang tadi ku baca,namun aku belum beralih,aku masih terdiam di tempatku. Aku mengamati seluruh ruangan masjid ini. Dari sudut kiri sampai ke sudut paling terdepan,dindingnya sekarang sudah dilapisi keramik, tidak tembok, hem…sudah banyak sekali yang di renov dan berubah di Masjid kenanganku ini,sekarang jauh lebih terlihat luas daripada dulu.

Aku menatap Seorang pria yang tadarus di Saf depan, persis berhadapan denganku, aku merasakan angin dari luar membelai wajahku dengan lembut , tiba-tiba hatiku berdegub kencang,dan entah mengapa aku seperti melihat masa-masa ku dulu disini. Aku duduk di sini,dan dia duduk di sana,kami saling berhadapan, namun terbentang jarak yang cukup jauh,untuk memisahkan shaf laki-laki dan perempuan, tak pernah terfikirkan olehku sebelumnya bisa setiap hari selama bulan Ramadhan di waktu itu,aku selalu tadarus bersamaan dengannya. Diam-diam kami sering saling tatap ketika selesai tadarus, atau sebelum tadarus .Aku ditempatku dan dia di tempatnya. Sebuah senyuman kecil memperlancar perkenalan kami,ketika kami sama-sama mengembalikan Al-Quran di rak buku di sudut utama masjid. Saat itu ,tempatnya juga masih sama dengan sekarang. “Margaretha…” Dia menyebut namaku pelan. Aku langsung menghadap kearah wajahnya,dan secepat kilat menundukkan wajahku sembari tersenyum. Aku bingung dari mana ia tahu nama itu, padahal disini semua orang memanggilku “Entin,” Bukan seperti sebutannnya tadi. “Darimana dia mengetahui nama Margaretha, bukankah hanya keluargaku saja yang tahu nama Baptisku itu?” . “Apakah dia tahu kalo aku adalah Mualaf?”  Aku segera lari untuk pulang, tak berani menatapnya lagi. Entah apa yang kurasakan saat itu,Aku masih ingat benar perasaan hati ini ketika itu, Ingin tertawa,malu,ingin terulang,ingin bersenandung  lagu cinta,ah sungguh luar biasa.

Nama lengkapnya cukup singkat, “HARDIAN”, namun kami sering memanggilnya dengan sebutan Kak Dian. Setiap Dzuhur,sebelum aku mengajar ngaji adik-adik kecil, aku selalu belajar ngaji dengannya dulu. Pantas saja, banyak gadis di sini yang nge-Fans sama dia,aku sendiri pun merasakannya. Manis,Agamis, baik,dewasa,pintar dan sopan, em.. satu lagi suara Adzan yang dilantunkannya sangat merdu, aku sampai hafal suara kak Dian, beda dengan suara yang lain. Tak pernah ada hari tanpanya di setiap keberadaanku di Masjid ini, Di saat teman-teman sebayaku,anggota remaja masjid yang lain,tidak terlalu meng-akrabiku, ada Kak Dian yang dengan baik mau mengajarkan tentang agama padaku. Tak ayal, pengetahuanku tentang Islam semakin bertambah, kecintaanku pada Masjid ini pun menjadi lebih dari sekedar tempat beribadah.

             Di suatu senja merah, di bulan Juli yang kering. Angin bertiup sembarangan tanpa lelah. Tak ada awan hitam diatas sana, hanya bintang kejora yang mulai  berkelip sebagai tanda akan kekuasaanNYA. Ku lihat seberkas sinar keemasan sang surya masih tertinggal  di ujung pengakhiran arah barat ,ah aku bosan..! Aku mengamatinya dengan tenang di beranda rumahku,sambil menunggu saat Magrib usai, Aku sedang tidak boleh Shalat dan k e Masjid, “Ah wanita, harus ada halangan ya,untuk beribadah” Tegurku dalam hati.

“Assalamualakum Martha!” Sapa Suara Pria itu mengejutkanku.Tak salah tebak, siapa lagi disini yang masih menyebutku dengan panggilan itu, hanya Kak Dian ”Wa..walaikum salam kak, a…ada apa?” Aku menjawab dengan nada yang agak kacau, maklumlah aku sangat deg-degan dengan kedatangannya yang tiba-tiba kerumahku. Aku mempersilakannya masuk,dan memanggilkan Ayahku, karena kata kak Dian,maksud kedatangannya adalah ada urusan dengan Ayahku. Saat itu, aku semakin tak karuan ingin tau apa yang akan dibicarakannya dengan ayahku. Ah,mungkinkah dia membicarakanku? Apa aku terlalu GR ya?, Ibuku mengetuk kamarku,dan memintaku membuat minuman. “Ibu udah tau lho tentang gosipmu dengannya” Goda ibuku. Hem.. bagus..!! Ternyata Gosip tenytang kedekatanku dengannya sudah sampai pada Ibuku, siapa sich yang bikin gossip? Perasaan, bukan hal special kan, kalo setiap selesai tadarusan Ramadhan lalu, Kak Dian mengantarkan aku sampai gang depan rumah?,Bukan hal yang special kan kalau dia memintaku untuk menemaninya mengajar ngaji adik-adik kecil, Bukan hal special kan kalau kami punya jadwal mengambil takjil bersamaan?, “Ah, ataukah semua ini ada yang mengatur?, spesialkah ini?” Tanyaku dalam hati.

“Intinya pak, saya tidak ingin ada berita buruk yang menyangkut nama  saya dan Dik Martha, saya ingin serius dengan Dik Martha pak, bukan sebagai pacar atau hubungan-hubungan anak muda yang biasa. Saya mohon ijin untuk ber-Taaruf dengan anak Bapak, itupun kalo bapak mengijinkan, InsyaAllah saya dapat dipercaya!”

Kalimat itu samar-samar aku dengar dari balik dinding kamarku, Keringat dingin mulai mengalir dari tubuhku, ada rasa haru, takut dan ….,ah entah lah apa nama perasaan ini.

“Gimana Tien? Semua terserah kalian lho!” Tanya Ayahku padaku. “ Dian ini, ternyata masih sodara jauh sama kita,Ayah sudah kenal keluarganya kog.” Imbuh ayah lagi. Aku menganggukkan kepala dan sedikit tersenyum.

“Kak, Martha masih Semester awal, kakak mau nungguin sampai kapan?” tanyaku pada kak Dian, ketika ia mengantarkanku pulang dari pengajian.

“Sampai kamu lulus, dan siap untuk lebih serius!”

“Kak, kenapa kakak memanggilku Martha? Dari mana kakak tau nama itu?”
“Aku sudah mencari tau tentangmu, sebelum aku berani mengenalmu. Margaretha Christine Anastasia, bukankah itu nama yang cantik?”

“Aku malu kak dengan nama itu, keliatan banget kalo aku Muslim Kemarin sore!”

“Lha kog gitu. Aku bangga dengan kamu de..,Meskipun kamu bilang Muslim kelmarin sore, namun sikap dan ilmumu tentang Islam, melebihi mereka yang sudah di Islamkan sejak awal. Jangan pernah tinggalkan sejarah de…Jadikan pengalaman!”

“Em.. tapi namaku gag ada di Al-Quran ya kak?”

“Coba kamu cari namaku di Al-quran, Surat apa yang ada nama Hardian?”. “Kayanya cuman Surat Cintamu deh?”

Aku kembali tersenyum-senyum kecil mengingat hal tentangnya. “Ah adakah dia di sini, Apa dia melihat masalalu juga seperti saat ini yang kulihat?”. Aku masih melamun, Namun dengan penuh sadar aku Mencium Kitab suciku ini, tanpa terasa ada setetes air mata yang jatuh di sana, aku mengusapnya, dan mencoba tersenyum lagi. Aku tak ingin orang-orang disekitarku saat ini, mengetahui apa yang sedang ku inginkan, dan kupikirkan. Sambil mencoba berdiri, aku menuju tempatku mengambil Al-Quran ini tadi. Aku meletakkannya dengan penuh hati-hati. Dan ada sesuatu yang kutemukan di Rak itu, “Kitab ini masih ada!” Fikirku lagi, sambil mengelus sebuah Kitab berjudul SURGA-NERAKA  yang terkesan tak pernah disentuh, mungkin mereka lebih suka membuka Kitab yang lebih baru, dari pada kitab lama ku ini. masih dengan balutan mukena Putih, aku menuju ke markas Pengurus masjid, yang terletak di belakang Tempat Wudlu. “Assalamualakium” Aku menyapa mereka yang ada di ruang itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku ikut duduk di ruang itu, duduk di sudut kiri, dan memperhatikan seluruh sisi ruangan ini.

“Kak aku bosan dengan kuliahku, aku merasa gag cocok nich di Accounting!”

“Ya udah, ambil kuliah lagi aja. Em.. kamu pandai bercerita, gimana kalo ambil Ilmu Sejarah aja?”

Aku terdiam sebentar, memikirkan kalimatnya itu. Sepertinya memang seru ambil sejarah, tapi kan ini udah separo jalan.Masa iya aku tinggalin. Sayang donk.

“Hei, kebiasaan melamun kamu…!, gag suka ya jadi guru? Iya sich De’ jadi PNS tu gag seru, tapi kalo di jalankan sesuai amanah, InsyaAllah tetap barokah.Aku nikmatin kog pekerjaanku ini!”

“Cocok kali ya kak, kakak Ngajar TIK,yang future oriented, sedangkan aku Ngajar Sejarah yang menginggatkan tentang masa lalu”

“iya kalo gag ada masa lalu kan gag ada masa depan”

Akhirnya dari hasil diskusi itu, seperti saat inilah, aku dapat gelar SE dan bisa tuntas juga di Ilmu Sejarah yang aku ambil karena sarannya, dan sekali lagi, karna nya lah, sekarang aku menyandang status sebagai guru sejarah. Seperti yang di harapkannya, bukan guru sejarah yang membosankan seperti di sekolahnya dulu, namun guru sejarah yang menyenangkan dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. “ Trimakasih kak, atas motivasinya saat itu” Aku tersenyum kecil mengenangnya di tempat ini.  Mereka yang tadi berada di Markas ini, satu persatu meninggalkan aku, seakan tau kalo aku ingin mengenang sesuatu sendirian di tempat ini.

“Martha, kenapa sendirian di tempat ini, ayo pulang udah malam!” Kak Dian menyapa aku yang sedang asyik membaca buku “SURGA-NERAKA”

“eh,kak jangan disini, sana…ntar di lihat orang gag enak!”

“ Mereka kan gag tau hubungan kita, biarin aja mereka nggosipin kita! Cuek is the best dek”

“Kak, ngomong-ngomong,kakak kog gag pernah berkata-kata rayuan ke aku, aku mau di rayu kaya temen-temenku kak!”

“Astagfirullah de’,, aku gag bisa,aku kan bukan pujangga. Maaf ya dek, gag seperti yang kamu inginkan!”

AKu hanya diam, sesungguhnya aku menyesal melontarkan kalimat permintaan itu.

“ Ngambeg ya? Ntar deh aku cari di internet kata-kata yang bagus, em.. tapi satu hal yang pasti de’ Bisa memilikimu kelak, adalah kebahagiaan dunia akhirat buatku, kamu lebih indah di banding perhiasan dunia semesta ini!”

“Kak, Tahun depan aku wisuda yang kedua,kakak harus hadir ya, kan kakak yang biayain,yang nyemangatin aku buat jadi sejarawan!hehehhehehe….”

**

Udara yang kuhirup semakin dingin, mungkinkah dia disini menemaniku untuk melamunkannya..? Angin, bolehkan aku ikut meniupkan rindu ini untuknya lagi, sungguh hanya sebagai sahabat saja, tidak kan lebih! Aku tau diri, tak mungkin aku menyimpannya didalam sini, berdosalah aku jika berzina hati tetap memujanya sebagai tambatan sanubari. Biarlah lembaran-lembaran kisah itu kuhabiskan sekarang,disini di Masid kenangan.

Dia menungguku di pintu gerbang Masjid, ada rasa bersalah dan sesak menggeluti dadaku. “Kak, kakak Marah, Kakak cemburu?” Tanyaku dengan nada terbata dan pelan. Aku tau dia kecewa mengetahui kedekatanku dengan seorang cowok di kampusku, terlebih setelah tadi siang dia memergoki ku diantar pulang oleh si cowok. Aku memang mulai bermain hati saat itu, mungkin karena jenuh dengan apa yang telah kumiliki.

“aku tidak marah, aku tidak berhak memarahimu, karena kita tak ada ikatan apa-apa..Tapi, kalo cemburu, aku akui,memang ada, dan benar adanya!”

“Kak, maaf..a..aku!” aku terbata menanggapi perkataannya.

Bagaimana perasaanmu dengan dia?”. Ini dia gaya cerdas kak Dian dalam mengintrogasiku. Kalo laki-laki lain, pasti akan menanyakan ada hubungan apa, siapa dia, ato pertanyaan-pertanyaan yang masih bisa di jawab dengan belbagai alasan,namun lain dengan ini.Aku sungguh tak bisa berkitik dengan Priaku ini.

“Jujur ya?Dia pernah bilang mencintaiku kak, dan Maaf,Aku juga  menyukainya kak!,”

Aku melihat kak Dian menghela nafasnya,mencoba menyembunyikan kekecewaanya. Dia menatapku dan tersenyum manis kepadaku.

“ Aku tau, kamu tak akan bohong padaku, kamu boleh dekat dengan siapa saja de, Boleh jadian bahkan pacaran dengan pria lain. Sungguh aku tak berhak melarang. Aku yakin kamu hanya jenuh dengan ini, sejauh-jauhnya kamu terbang, pasti akan kembali kerumahmu, sebentuk hati yang benar-benar kamu cintai dan Allah Ridhai. Dan aku berharap sebentuk hati itu adalah aku.

Aku hanya terpaku mendengarkan kalimat-kalimatnya. Ada rasa lega dan sesal di hati ini. “Lelaki sebaik ini, pantaskah aku hianati?” tanyaku dalam hati

Dek..kalo kita jodoh, gag akan kemana, tapi kalo gag jodoh, kemanapun perginya pasti Allah memberikan penggantinya” . “Satu pesanku yang harus kamu ingat dan kamu jaga ya…, Wanita yang baik, di peruntukkan kepada laki-laki yang baik, jagalah dirimu agar selalu di cap baik,bukan olehku, namun oleh Allah dek!”. “Berjanji ya, kamu akan selalu sebaik yang ku sangka!”

Benar- benar tak tahan lagi, aku meninggalkannya, dan berlinangan air mata sepanjang jalan.

“Ketahuilah kak, sesalku saat itu, masih ku ingat sampai sekarang” aku berbisik sendiri di tempat ini. Kenangan tentangmu, ingin kuhabiskan..inginku kak!

**

“Kak, met ULTAH ya, ini Martha kado Bulpoint ya,terus..ini kertas impian. Silakan tulis apa yang kakak inginkan dalam waktu dekat ini!” Aku menyodorkan sebuah Bolpoin istimewa yang ku pesan  dari temanku yang habis pulang Umroh itu kepadanya. Kak Dian menuliskan tiga kata di kertas itu. Harapanku, dia akan menuliskan untuk segera menikah denganku, tapi aku salah,aku membacanya di dalam hati “ Ingin Menemui Surga”.

“Kog Cuma ini inginnya kak?” Aku bertanya dengan nada kesal. “Kak kita udah empat tahun lho..” Aku tidak meneruskan perkataanku, berharap ia sadar apa sebenarnya yang aku inginkan.

“Kecil dimanja, remaja di suka, tua kaya raya, Mati masuk surga, hahhhahaha” Kak Dian berkata sambil tertawa ringan.

“Dek, ketika kecil aku udah yatim piatu, hanya ikut kakakku, jadi gag ada yang memanjakan, ketika dewasa, cuman kamu yang suka,itupun kalo kamu lagi gag bosen….., ketika tua nanti, aku gag yakin bisa kaya raya,Cuman Guru, mana mungkin kaya raya?”

“Terus..?”

“Nah, harapanku Cuma satu, yang lebih kekal dek, mati masuk surga, doakan saya ya…!” Canda kak Dian sambil mencubit lenganku.

“Gag lucu kak, jangan sentuh-sentuh! Gag Muhrim tau!!!” benar-benar gaya anak kecil yang kutunjukkan padanya, menjulurkan lidah dan lari-lari kecil,menjauhinya, lalu mendekat lagi.

**

Hari itu, hari Jumat, Sejak pagi Awan hitam sudah bergelantung di langit menyelimuti kotaku yang panas.Aku tak peduli dengan semua suasana ini, aku masih saja sibuk menyiapkan pakaianku dan hal-hal lain guna wisuda esok pagi. Entah mengapa, hatiku terus berdetak, dag dig dug gag karuan, sepertinya aka nada sesuatu yang terjadi, ah..jangan,, aku gag mau ada firasat buruk di otakku ini. “Emh, mungkin aku deg-degan mau wisuda, ah tapi wisuda yang pertama dulu aku baik-baik aja.Ato mungkin karna besok Kak Dian akan mendampingiku. Jangan-jangan pulang wisuda, dia ngajak aku nikah, asyik… Wisuda Status juga!” Aku menghibur hatiku sendiri, dan membayangkan hal-hal bahagia yang akan terjadi esok hari.

Ketika itu, jam dinding menunjukan pukul 10.00 siang, aku benar-benar terkejut dengan kabar yang ku dengar, , kak Dian masuk IGD. Secepat kilat aku menuju ke Rumah sakit tempat kak Dian di Rawat. “Kata dokter jantung koroner, sabar ya Ntin!” Kata Pak Usatad Jefri, tetanggaku. Aku memasuki ruangan itu, semua keluarganya berlomba memelukku, air mata ini jatuh tak terlahan lagi, aku melihatnya terdiam, dan tak bergerak sama sekali. Senyum kecil itu menghiasi wajahnya. “Kak, kak Dian, bangun!” Aku bebisik ditelinganya. “Kak,besok mau mendampingiku kan…?”, “kak,..jangan pergi,,..!” Setelah itu, aku sudah tak sadarkan diri.

Tak ada lagi tawa itu, tak ada lagi Suara Adzan yang mengagumkan hatiku, tak ada lagi..dan tak aka nada lagi, Ia pergi tuk Selamanya, meninggalkanku dan cintaku.”Kak Dian,lihatlah aku,setega ini kah kamu padaku?”, Ya Allah, mengapa Kau ambil pria baik itu dariku,mengapa secepat ini waktuku berdamping dengannya? Adakah dia tersenyum disana melihat tangisanku?, kembalikan dia ya Allah…”

Pagi itu tak seindah biasanya. Aku tak berani menatap jendela kamarku. Awan hitam lagi-lagi menghiasi pemandangan sekitar, tak hanya itu, ia juga menyelimutiku dengan segala kegundahan, kepedihan,kehilangan, ketakutan. Hujan turun perlahan, menertawakan perasaanku, dan menambah pedih di hatiku. Pertir yang menggema seakan membetakku untuk mengiklaskan semuanya…, Aku benci suasana ini, aku tak mau menemukan keadaan seperti ini.Aku tak mau sendiri,”Janganlah kau turunkah hujanMu di pagi hari,janganlah lagi….!”

Aku jadi tak berdaya setelah kepergiannya, baru aku sadari, aku benar-benar menginginkannya. Orang tuaku sangat sedih dengan keadaanku ketika itu, dan mengirimku ke rumah nenekku, di tempat yang jauh,yang di anggap akan membuatku lupa akan kisahku.

Air mata ini berlinang lagi,aku benar-benar tak kuasa menahan perasaanku. Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi, kenangan itu membawaku kembali ke masa itu. Ku rasakan sebuah sentuhan pada lenganku, aku segera menghapus air mataku “Kak dian!” Bisikku pelan.

“Sayank, ayo pulang, aku sudah menunggumu sejak tadi!yang sudah, biarlah berlalu.. jangan di tangisi lagi. Ayo,sudah malam!” Bisik lelaki itu di telingaku.

Aku menganggukan kepala, dan meraih tangannya.Aku mengikuti langkahnya menuju gerbang keluar Masjid, Ia menggenggam tanganku,seakan sudah menebak apa yang terjadi padaku. Aku menoleh kebelakang, dan kulihat Senyum kak Dian disana, aku membalas senyum itu, dan mencoba memperlihatkan padanya ” Inilah dia masa depanku, kebahagiaanku,dan Kehidupanku.SUAMIKU. Dialah dokter yang bersusah payah menyembuhkanku dari rasa kehilangan yang membekas, Dialah kini malaikat untukku,Yang Tuhan kirimkan sebagai teman hidupku, yang mungkin Tuhan pilihkan sesuai dengan kebaikanku.”. “Kamu benar kak, Wanita yang baik, pasti akan mendapatkan lelaki yang terbaik!” Aku membalas genggaman suamiku dengan hangat, dan tersenyum manis untuknya. Sekali lagi, kulihat lambaian tangannya, dan senyum bahagia di bibirnya,perlahan…bayangan itu pun hilang,menutup segala kenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s