Seminggu Untuk Selamanya

Bismillah..

Namanya Jasmin, beliau adalah adik dari mantan istrinya Pakdhe ku. Bukankah sebenarnya sudah tidak ada hubungan apa-apa?. Iya, memang demikian adanya. Perceraian antara Budhe dan Pakdhe ku membuat kedua keluarga saling tidak bertegur sapa lagi. Namun, berbeda dengan Jasmin, dia tetap mau menyapa ibuku,tetap berhubungan baik dengan siapapun disekitarnya, tentu atas ijin suaminya.

Singkat cerita,

Suatu hari,suami Jasmin pulang dari Bali. Ia merasa senang akhirnya suaminya berhenti dari pekerjaanya di Bali, dan mau bertani saja di desa. Selama ini ia tinggal berdua saja dengan mertuanya. Suaminya hanya mengunjungi mereka satu bulan sekali. Sebenarnya, sudah berkali-kali dari pihak keluarga Jasmin, menginginkan ia untuk pulang kerumah saja” toh lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, nanti kalo suamimu pulang barulah kembali kerumah itu” begitu pinta ibunya ketika itu. Ya, ibu Jasmin tidak terlalu menyukai menantunya, dulu sebenarnya ia kurang setuju, Jasmin memilih lelaki itu, selain miskin lelaki yang akan dinikahi anaknya itu terlihat sangat khusyuk menjalankan ibadah. Yang ditakutkan Ibunya, Jasmin terpengaruh menjadi seperti suaminya terlalu “Nggethu*” mendalami islam, sehingga ia lupa kan keluarga yang telah membesarkannya.

 “ Mengapa saya harus menyesal hidup dengannya?,mengapa saya harus meninggalkannya? Bukankah saya sendiri yang telah memilihnya, dan berjanji untuk setia menaati dia sebagai suami saya” Itulah kata yang di lontarkannya ketika ada tetangga yang menanyainya, “Apa kamu gag menyesal nduk, udah miskin, ditinggal-tinggal terus lagi?”

Itulah sebabnya, ada rasa bahagia ketika mendapati suaminya pulang, dan berkata akan  bertan me”nggarap” sawah Almarhum ayahnya.

Berbulan-bulan berlalu ia lewati dengan suka cita dengan suaminya, sampai suatu hari suaminya jatuh sakit. Setelah tak kunjung membaik, ia membawa suaminya pergi ke dokter, dan alangkah terkejutnya ia ketika mendengar bahwa suaminya terkena “Liver”, sudah sangat parah. Dikter menjelaskan dengan bahasa yang dapat Jasmin mengerti,istilah Liver sangat mengerikan di telinganya. Hati suamiinya sudah tidak berfungsi dengan baik.

Jasmin mulai kelihatan murung.“Buk, gag usah sedih! Hidup dan mati itu di tangan Allah. Kita kan sudah berihtiar mencari obatnya. Allah maha menyembuhkan buk! Janji ya, gag usah sedih lagi” Suaminya menenangkan hatinya.

Jasmin tersenyum pada suaminya lalu pergi untuk sholat Dhuha. Ia menangis sendiri di kamar, tanpa di lihat suaminya.Ingatannya kembali pada masa-masa SMP dulu, ketika suaminya dengan baik hati mau memboncengkan Jasmin dengan sepeda bututnya, mengantarkan ia sampai rumah.Lalu ketika melihat perjuangan suaminya untuk mendapatkan restu dari keluarga Jasmin, Ia merasa beruntung mendapatkan suami yang bisa mengajarinya tentang hal-hal agama, yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia menginngat betapa bahagianya ia ketika pertama kali ia bisa memasak untuk suaminya itu. Betapa bahagianya ia dengan kebersamaan itu. “Ya Allah, saya mencintai suami saya. Berikan waktu yang cukup untuk mengolah obat rindu hamba di suatu kelak”. Ia ingat lagi kata-kata dokter, cepat atau lambat suaminya kan meninggalkannya. Selamanya!. Ia menangis lagi, dan menangis lagi, tanpa suaminya tau.

Hari-hari berlalu,Ia semakin terlihat sayang pada suaminya. “Bukankah waktu bersamamu sangat berharga?”. Ia mengatakan itu ketika suaminya menegurnya tidak berangkat pengajian. “Aku bukan segalanya buk, berangkatlah!”. Jasmin berangkat dengan hati yang gelisah, meninggalkan suaminya sendiri di rumah bersama ibunya yang sudah renta.

Ketika ia pulang,Ia mendapati suaminya pinsan di depan pintu kamarnya. Ia berteriak dan meminta tolong pada tetangganya. Ia sangat lega melihat denyut nadi suaminya masih ada.Ia meminta bantuan tetangganya untuk mencarikan kendaraan,dan membawa suaminya ke rumah sakit. Ia tampak tegang dan tak henti-hentinya meneteskan air mata. Sesampainya di Rumahsakit, Ia memeluk suaminya erat dan menangis sekencang-kencangnya ketika melihat suaminya tersadar. “Jangan tinggalkan aku mass…!” Teriaknya sambil menangis. “ZZuuttt, sudah-sudah gag papa, aku masih di sini buk. Gag pap, jangan menangis seperti ini lagi ya, aku sangat sedih melihatnya, sangat sakit jika aku melihat kamu menangis.”. Jasmin masih menangis,ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. “Buk, aku..aku titip Mak ya kalo aku ngga ada,menikahlah lagi, jika itu membuatmu lebih baik, tapi bawalah makku ikut serta ya,Insya Allah beliau tidak akan menyusahkanmu. Beliau orang yang baik, mau menerima apa saja”.  Jasmin memandangi suaminya, Ia menganggukan kepala dan berlinang lagi air matanya. Tak sedikitpun ia beralih dari tempat duduknya yang berada di sebelah suaminya.

Malam semakin larut, Jasmin tidak tidur sama sekali. Ia ingin melihat wajah suaminya yang tertidur lelap. Pagi harinya, ketika bangun, Sang Suami melihat istrinya masih di sebelahnya. Dengan mata sayu, sambil mengelus-elus rambutnya,ia tahu bahwa semalaman istrinya tidak tidur. “Buk, ayo Sholat Subuh!” Suaminya mencoba bangun dari tidurnya, namun ia merasa tidak punya tenaga lagi untuk bangun. “Buk, aku mau sholat disini saja. Melihat suaminya tidak bisa bangun,Ia tidak pergi ke Mushola, ia sholat di kamar sambil menunggui suaminya. Selesai Sholat, ia membuatkan the untuk suaminya, dan menyuapinya dengan penuh sayang. “Buk..nanti kalo aku gag ada…” Jasmin menghentikan gerakannya, dan memandang mata suaminya. “jangan bilang gitu, kamu akan baik-baik saja kan mas?”. “Buk,dengarkan aku, janji sama aku, kalo aku nggak ada, aku gag mau kamu menangis.Kamu akan memberatkan langkahku menemui Allah buk!”. “Aku akan baik-baik saja di sana, Allah akan menjagaku.Tersenyumlah buk!”. Jasmin tersenyum kecil, dan mengusap kepala suaminya dengan lembut. Keluarga Jasmin sangat sedih melihat keadaan anak bungsunya, yang terlihat kurus dan layu. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jasmin terlalu keras kepala, Ia tidak mau meninggalkan suaminya tanpa suaminya memintanya.

 

“Buk, sudah makan?” Suaminya bertanya pada Jasmin, ketika ia baru bangun dari tidurnya di siang hari. Jasmin masi saja mengipasinya dengan kipas bambu,dan menyejukan tubuhnya. “Belum!”.Jawab Jasmin. “Buk, mulai sekarang, tanpa ku minta, tanpa aku menemanimu, kamu harus makan,kalau sudah waktunya makan!” Jasmin menganggukan kepala, tanpa ada suara papun yang di keluarkannya. “Buk, ambilkan aku makan!”. Jasmin mendudukan suaminya, lalu mencoba menyuapinya. Suaminya tidak mau makan, dan mengambil alih piring sendoknya sendiri. Ia menyendokan makannanya, dan mengarahkannya ke mulut Jasmin. Jasmin menerimas suapan itu dan kembali air matanya berlinang. Ia tau,ini  tak kan terulang lagi. “Buk,kamu jangan berfikiran ini tak kan terulang lagi, Jadilah kamu wanita yang Salih, agar kamu tetap menjadi istriku di surga kelak!”. Jasmin ttersenyum, dan menganggukan kepalanya.

“Buk tidurlah, aku mau tidur bersama denganmu.Ku lihat akhir-akhir ini, kamu tidak tidur jika aku tidur!”

“Aku ingin menjagamu!”. “Menjaga dari apa? Allah kan ada di mana saja, Ia yang akan selalu menjaga kita.” Jasmin mengambil bantal, dan mencoba berbaring di sebelah suaminya. Tiba-tiba tangan suaminya menggenggamnya, dan berkata padanya “Tidurlah!”

Jasmin terbangun ketika mendengar Adzan subuh, Ia merasakan genggaman suaminya yang terasa dingin. Ia segera terbangun, dan memandang wajah suaminya yang terlihat tersenyum. Air matanya mengalir lagi, namun cepat-cepat ia usap. “Inalillahi wa Ina…..” Ia tidak melanjutkan kata-katanya di dalam hati. Ia mengambil nafas dalam-dalam, dan mencoba mengiklaskan krpergian suaminya. Ia ingat suaminya, tidak ingin melihatnya menangis lagi. “Mas, kamu gitu…Gag mau berpamitan sama aku,diam-diam ninggalin aku,humh.. aku gag suka itu!” Ucap Yasmin dengan nada menggoda pada suaminya. Ia tersenyum lagi.  Denga sekuat tenaga ia melangkahkan kakinya, dan memanggil suster.

 

Ketika mobil Ambulance membawa jenazah suaminya pulang ke rumah,Ia tidak mau duduk di depan,ia duduk di belakang,menunggui jenazah suaminya. Di buka wjah suaminya, di pandangi senyum itu. Sepanjang perjalanan, ia banyak bercerita pada suaminya itu, seolah ia tahu suaminya masih mendengarnya. “Mas kamu tau, aku juga pengin terlihat manis seperti itu kalo aku berpulang nanti!,eh iya lihat tanah kosong itu mas, aku jadi ingat,dulu kita pernah bermimpi untuk bisa beli tanah di pinggir jalan kan? Lalu buka toko atau warung makan? Ingat ngga…? .

“O iya mas, kamu tahu .. kambing kita melahirkan dua ekor anak mas,kata mak, jantan semua anaknya. Wah..lumayan ya, besok besar taun depan mau tak korbankan satu ya?” Jasmin tersenyum lagi memandang wajah suaminya. “Mas, besok kalo aku kangen sama kamu, tolong dating di mimpiku ya mas…,em setiap hari deh kalo bisa..”. “bisa kan mas?” kali ini ia terlihat menahan air matanya. Ia ingat suaminya pernah bilang, kalau ia hendak menangis, “Bernyanyilah,lagu yang gembira..maka kamu akan bahagia lagi” . “Mas..aku mau nyanyi ya, mas boleh tutup telinga deh kalo gag mau dengar!”

Hatinya mulai sedikit tenang lagi ketika ia menyanyikan lagu-lagu anak-anak. “Hei mas.. aku teringat, bukankah kita pernah bercita-cita punya empat anak?” Jasmin tertawa kecil. “Kamu sich,pergi duluan…mana jadi anaknya kalo gini, besok ya..kalo aku sudah di sana,,kita sama-sama minta ke Allah, minta empat ya mas!, dua perempuan, dua laki-laki. Yang pertama kita kasih nama Wahid,yang kedua kita kasih nama Itsna…Yang pertama jago sepak bola, yang kedua jago nyanyi. Em…kalo yang ketiga siapa ya mas?” jasmine tampak mengingat sejenak, lalu tersenyum lagi. “Tsalsa bukan?Iya ya,,Tsalsa, berasal dari kata Salasatun kan?”. “ Nah yang ke empat cowok lagi, namanya Arba kan?” “Ye…. Aku masih bisa ingat semuanya kan? Iyalah..ingatanku lebih bagus dari pada mas..!”Jasmin bertepuk kecil, menyombongkan dirinya pada suaminya yang sudah tak lagi bernyawa. “MAS, SATU LAGI..aku hitung kita sudah seminggu di Rumah sakit, hem…seminggu bersamamu, untuk selamanya ya? “.“Kita udah sampai mas!”

Para tetangga terlihat aneh melihat Jasmin yang turun dari ambilan dengan menampakan wajah yang sama sekali tidak sedih, bahkan ia tersenyum menyalami keluarga serta tetangganya. Ia menghampiri mak mertuanya yang sedang menangis. “Mak, mas sudah pesan ke saya, mak gag boleh nangis, orang mas baik-baik saja, Mak harusnya bangga, mas bisa cepat masuk surga!”

Ibu Jasmin menangis meraung-raung menangisi nasib anaknya yang ditinggal suaminya dalam usia yang masih muda. Jasmin memeluk ibunya dan menepuk-nepuk punggung ibunya. “Sudah..sudah,, gag usah sedih bu, jangan menangis gitu…!”

Orang-orang di sekitarnya yang melayat, memperhatikan tingkah Jasmin. Bukan Jasmin yang di tenangkan oleh para saudaranya, malah ia yang menenangkan saudara-saudaranya untuk tidak menangis.

Seminggu setelah suaminya di makamkan, keluarganya dating ke rumahnya. “Nduk, ayo pulang, buat apa kamu di sini?”. “Bu..saya tidak ingin pulang, saya masih betah disini sama mak..!”

Setelah Empat puluh hari, Ibu dan keluarganya dating lagi ke rumahnya. “Nduk,,ibu kawatir, kamu baik-baik saja kan?ayo pulang, di rumah nanti, kamu pasti akan bisa lupa dengan suamimu, dan hidup lebih bahagia lagi…!”. “Ya Allah bu…mana mungkin saya melupakan suami saya, dia suami saya bu. Hidup ataupun mati, dia tetap suami saya. Mengapa saya harus melupakannya?”

“Woalah nduk, apa kamu akan begini terus?”. “Bu, ibu lihat kan, saya baik-baik saja. Saya sehat, bisa bekerja, masi bisa nggarap sawah.Kami masi bisa makan bu..,,saya akan tetap di sini sampai mak meminta saya untuk pergi.Bu,ini amanah suami saya!” Jawab yasmin pada ibunya.

*#*#*#*#

Saudaraku, dari cerita ini bisa kupetik, “Manfaatkanlah waktu sebaik mungkin, jangan biarkan kebersamaan anda bersama pasangan anda banyak terhambat oleh pekerjaan atau apapun yang menjauhkan.Bayangkan kalau Tuhan mengambilnya…”

Jadilah istri salihah untuk suami yang salih…, Agar kelak bisa selalu bersama-sama. Apalah arti kata cinta sejati, jika hanya bisa bersama di alam bumi? Bukankah cinta sejati,yang sebenarnya adalah milik Allah, jadi.. sayangilah, cintailah pasangan anda karena Allah.

Gambar

9 thoughts on “Seminggu Untuk Selamanya

  1. kisah yang hampir sama dengan saya. suami dipanggil allah kerika usia perkawinan kami baru 9 tahun 4 hari. dan meninggalkan amanah berumur 8 dan 4 tahun. saya tidak bisa seperti yasmin. rasa tidak percaya dgn kepergiannya yang begitu tiba2.. saya ikhlas ya allah..tapi rasa sedih dan rindu masih saja mendera hati ini. ya Rabb ampunilah hambamu ini yang kurang bisa sabar atas qadha dan qadharmu..kuatkanlah iman hamba. pertemukanlah kelak kami di syurgamu…

    1. Mba Nining, berarti Allah sayang sama suami mbak. Saya hanya bisa berdoa semoga mbak di berikan kekuatan untuk menjalani hari-hari tanpa suami mba. Semoga keimanan dan keislaman sellau menyelimuti hati mba Nining.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s