THE POWER OF DREAM – “Beranilah bermimpi..!”

Pagi itu, seorang anak usia 7 tahun pulang dengan wajah murung, dia tidak mengerti kenapa karangan indah tentang masa depannya mendapat nilai E dari gurunya, Sang guru mengembalikan karangannya dengan sebuah pesan  demikian pesan gurunya.

Sesampai di rumah, anak kecil yang terlahir dari keluarga sederhana ini menemui ayahnya yang berprofesi sebagai seorang pelatih kuda, dia tunjukkan karangan tentang masa depannya yang masih berhias nilai E ini ke sang ayah.

Sang ayah sejenak melihat lembar-lembar yang berisi coretan tangan anaknya, coretan tangan sang anak ini menceritakan impian besarnya akan masa depan, di lembar itu dia gambarkan dengan sangat terperinci peternakan kuda yang akan dibangunnya, dengan luas 200 ha dan terdapat rumah seluas 4000 meter persegi tepat berada di tengahnya, tergambar juga detail  peternakan kuda tersebut, semua trak lintasan kuda, arena bertanding serta kandang kudanya, semuanya dia gambar dengan sangat jelas. Sang ayah berdecak kagum, ada rasa bangga yang menyeruak di dadanya.

Sejurus kemudian, dia pandangi anaknya yang masih tertunduk muram, lalu sang ayah mengelus rambut anak ini dan berkata : “Monty, semua tergantung kepadamu, apa yang kamu tulis di lembar ini menyangkut masa depanmu, jika kau benar-benar menginginkannya terwujud, maka pertahankan karanganmu ini, biarkan cerita ini menjelma menjadi kenyataan di masa depanmu, jangan biarkan orang lain mengubah apa yang menjadi keinginan besarmu dan merampasnya darimu”

Kata-kata sang ayah laksana oase bagi sang anak yang bernama si monty ini, dengan senyum mengembang, monty memandangi lembar karangannya, semua gambaran indah di lembar itu seakan menjelma menjadi kenyataan di pikirannya dan dia bertekad tidak akan mengubah impiannya berapapun nilai yang akan diberikan gurunya.

Esoknya dengan wajah riang, monty menghadap gurunya, dia serahkan lembar-lembar Gambarkarangannya tersebut ke gurunya tanpa merubahnya sama sekali, sang guru melihat sebentar lalu dengan wajah heran dia berkata pada monty,:

“ Monty, kenapa tidak kamu ubah karanganmu ini, apa yang kamu tulis dan gambarkan di lembar ini sama sekali tidak masuk akal, semuanya terlalu besar buat anak sepertimu, engkau hanya seorang anak yang terlahir dan hidup di keluarga miskin, mana mungkin kamu bisa mewujudkan ini semua, semuanya yang kamu tulis disini butuh biaya yang sangat besar dan tidak mungkin bisa engkau wujudkan” cerca sang guru.

Dengan masih mempertahankan senyum, monty menunjukkan sebuah tulisan kecil yang dia tulis tadi malam di akhir karangannya, tulisan itu berbunyi “Guru engkau boleh mempertahankan nilai E mu pada karanganku ini, tetapi aku juga akan tetap mempertahankan karangan impianku ini dan mewujudkannya suatu saat nanti”.

Singkat cerita, setelah peristiwa itu, hari-hari monty dipenuhi dengan gairah, gairah untuk membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh akan impiannya, gairah untuk memperlihatkan kepada guru dan semua temannya bahwa dia tidak sedang berkhayal dan gairah ini memunculkan tekad yang kuat di dadanya.

Karangan dengan nilai E ini dia pajang di kamarnya, tiap bangun tidur dia lihat karangan ini dan segera gambaran indah akan masa depannya muncul dengan sangat jelas di pikirannya. Tiap kali dia mendapat kesulitan, tiap kali dia tejatuh, tiap kali dia tertantang oleh keadaan, maka karangan ini seakan-akan membisikkan ke telinganya, “Monthy ,ingat suatu saat nanti semua yang kautulis di lembaran ini akan menjadi kenyataan”.

Begitulah hari-hari monty, hari-hari yang penuh gairah dan semangat, karangan itu telah menghipnotis dan akhirnya mengarahkan fokusnya, sehingga dia bisa melihat setiap peluang yang menuntunnya ke arah impiannya tersebut, menangkapnya dan memanfaatkan dengan baik peluang  tersebut untuk menata potongan puzzle impian yang telah dia cipta.

Dan  monty dewasa akhirnya berhasil meraih semuanya, yah semuanya, bahkan setiap detail yang tertulis dan tergambar di lembar-lembar karangannya.

Hingga di suatu sore yang cerah, monty besar terlihat sedang mengajak jalan-jalan seseorang yang tampak sudah lanjut usia di peternakannya yang sangat luas, tiap detail di peternakannya tersebut tak terlewatkan sama sekali, hingga sampailah mereka berdua di rumah monty yang terletak tepat di tengah peternakan luas tersebut.

Di dinding rumah ini tertempel rapi lembar-lembar impian monty yang ia tulis saat masih berusia 7 tahun, lelaki lanjut usia ini tampak berkaca-kaca melihat gambar dan tulisan di lembar karangan monty ini.

Lalu dengan ucapan bergetar, lelaki ini berkata kepada monty yang telah sukses mewujudkan impian hidupnya : “Monty, sekarang bapak sadar bahwa tidak ada impian yang tidak mungkin jika dimunculkan dengan segenap hati, dan kali ini bapak mengaku salah telah pernah mencela impianmu dan merendahkan kemampuanmu dan mungkin ada begitu banyak impian murid-murid lainnya yang tanpa bapak sadari telah bapak curi dan lenyapkan”.

Sahabat, kisah di atas adalah satu diantara jutaan kisah tentang dahsyatnya kekuatan dream atau impian. Semua kisah penemuan –penemuan dahsyat di muka bumi ini, hampir selalu diawali dari sebuah impian yang bahkan semula dianggap hanya sebagai sebuah khayalan.

Penemuan pesawat terbang, awalnya adalah ‘khayalan’ dari dua orang muda bersaudara yang sangat ambisius, bahkan ketika begitu banyak orang yang meremehkan, mencemooh,  menghina dan menganggap impian mereka hanya utopi  dari orang-orang bodoh yang tidak memahami ilmu pengetahuan, (konon saat itu ilmu pengetahuan mengatakan bahwa tidak mungkin benda yang lebih berat dari burung bisa terbang), Wright bersaudara sang pemimpi ambisius ini tidak peduli, bahkan semakin banyak orang yang meremehkan impian mereka, semakin besar pula geloranya untuk mewujudkan impian tersebut.

Dan, waktu akhirnya membuktikan kepada dunia, bahwa impian yang besar bahkan yang dianggap ‘tidak mungkin-pun’ bisa menjadi kenyataan selama impian itu tidak “luntur” dan terus diperjuangkan. Wright bersaudara setelah berkali-kali gagal dan terjatuh akhirnya bisa menyempurnakan rancangan desain pesawat sederhana dan mampu terbang selama lebih dari 2 jam.

Dan begitulah hampir semua ending kisah-kisah penemuan ‘luar biasa’ kemenangan akhir hampir selalu berada di pihak mereka yang memiliki impian-impian besar  tersebut dan mau membayar harga dari semua proses untuk mewujudkannya.

Realita

bukanlah kenyataan, Realita adalah ilusi, hanya saja ilusi yang ngotot untuk diwujudkan (Albert Einstain).

KUASA IMPIAN

Sahabat, tidak ada pencapaian tanpa melalui proses, semua pencapaian selalu dihasilkan melalui serangkaian proses, proses adalah usaha, proses adalah kerja keras, proses adalah do’a, proses adalah pengharapan, dan ruh dari usaha, ruh dari kerja keras, ruh dari do’a dan ruh yang memunculkan pengharapan adalah impian itu sendiri.

Tanpa impian, kita tidak memiliki daya untuk melewati proses, bahkan proses yang paling mudahpun seperti do’a dan pengharapan tidak mungkin muncul ketika kita tidak memiliki impian, apalagi proses berupa kerja keras dan keberanian untuk menantang segenap resiko dan kesulitan yang siap menjatuhkan kita dalam melewati perjalanan mewujudkan impian.

Mereka yang tidak memiliki impian, akan menjalani hidupnya begitu datar, hidup menjadi sekedar rutinitas, berangkat pagi pulang petang dan akhir bulan menunggu penghasilan yang pas-pasan, tidak ada gelora, tidak ada antusiasme, tidak ada passion and life become like a zombie(dan hidup laksana zombie).

Dan saat kematian tiba, tidak ada catatan sejarah yang kita tinggalkan, orang hanya mengenang kita sesaat setelah jenazah kita masuk liang kubur, setelah itu nama kita hilang, lenyap seiring mulai lenyapnya jasad kita ditelan bumi.

“hidup tidak mencapai tujuan/Impian, adalah jauh lebih baik daripada hidup yang tanpa tujuan/impian”Gambar

Pangeran diponegoro dan para heroic pendahulu kita, nama dan kisah hidupnya dikenang sampai sekarang, bukan karena mereka berhasil mewujudkan impiannya membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah, sejarah mengatakan kepada kita kisah tragis akhir hidupnya, mati karena siasat licik sang penjajah dan bangsa ini belum terbebaskan saat jiwa mereka terbebas dari raganya, mereka gagal mewujudkan impiannya, tetapi mereka berhasil menumbuhkan impian mereka di dada segenap para penerus mereka, sehingga setiap orang yang mendengar kisah mereka tergerak untuk menggenapkan proses yang menjadi syarat terwujudnya impian tersebut.

Pangeran diponegoro adalah gambaran orang-orang yang ‘kalah’ dalam  pertempuran tetapi menang dalam peperangan dan semua berawal dari impian.

 

 

 Gambar

BAGAIMANA IMPIAN TELAH MERUBAH HIDUP SAYA..?

Seperti kebanyakan remaja bermasalah pada umumnya, saat kelas 2 smu saya menjalani kehidupan hampir  tanpa sebuah harapan akan gambaran masa depan, yang ada adalah menikmati kesenangan-kesenangan sesaat dan terjebak pada pergaulan yang sama sekali tidak produktif.

Hari-hari hanya berpindah dari satu aktivitas rutin ke aktivitas rutin lainnya tanpa passion di dalamnya. Pulang sekolah mampir ke tempat billiard dan menghabiskan waktu hingga menjelang sore, bahkan tidak jarang baru sampai rumah setelah malam tiba.

Malam hari ‘nongkrong’ bersama teman-teman di kampung, bermain gitar, mendendangkan lagu-lagu yang lagi ngetop  sambil menggoda ‘cewek-cewek’ yang lewat.

Gambar

Hingga tidak aneh jika prestasi belajar merosot tajam, klimaksnya saat naik ke kelas tiga, ranking saya menembus ‘lima besar’ dari belakang, dari 37 siswa saya berada di ranking 34.

Alhamdulillah, ternyata kondisi ini meledakkan sebuah keinginan yang begitu menggelora dalam dada, tepatnya setelah sang bunda tercinta, meneteskan air mata melihat prestasi akademik anaknya yang menggoreskan rasa sedih di dada.

Air mata tersebut mampu membakar semangat yang selama ini beku, menumbuhkan keinginan yang selama ini hilang, keinginan untuk melihat senyum sang bunda  karena anaknya mampu berprestasi di sekolah, hingga tercetuslah sebuah impian mempersembahkan ranking 10 besar di kelas tiga.

Impian ini juga meneguhkan satu komitmen yaitu Apapun yang terjadi, pulang dari sekolah, saya akan meluangkan waktu minimal 1 jam untuk mereview pelajaran yang tadi diajarkan di sekolah

Impian ini mengubah hampir segalanya, mulai dari prilaku, kebiasaan, sikap, kerja keras dan bahkan kecerdasan dalam memahami pelajaran yang sebelum ini “malu-malu” untuk keluar.

Impian ini juga meneguhkan satu komitmen yaitu apapun yang terjadi, pulang dari sekolah saya akan meluangkan waktu minimal 1 jam untuk belajar mereview pelajaran yang tadi diajarkan di sekolah.

Di kelas tiga saya menjelma menjadi sosok yang berbeda, saya menghindar dari pergaulan anak-anak tanpa harapan, saya duduk satu bangku dengan anak juara, bersahabat dengan dia dan meniru model belajarnya, menumbuhkan keyakinan yang sama dan berusaha mencontek strategi-strategi belajarnya.

Dan yang tersulit dari semua proses mewujudkan impian ini adalah keluar dari lingkungan pergaulan ‘sesat’ dan menyesatkan, selalu ada godaan untuk kembali ke lingkungan itu apalagi ketika ada olokan dari mereka “wah mukhlis sekarang jadi ‘alim’, jadi anak mama” dan ucapan-ucapan lainnya yang membuat hati tidak nyaman.

Untungnya keindahan membayangkan impian tercapai dan bayangan penderitaan melihat air mata sang bunda menetes lagi, mampu memunculkan penangkal godaan dan cemoohan di atas.

Gambar

Dan adakah penderitaan yang lebih besar dibanding melihat tetesan air mata sang bunda, tetesan air mata kesedihan, tetesan air mata kekecewaan, tetesan air mata kepedihan yang kesemuanya disebabkan oleh ulah kita?

Dalam hati, saya berkata “mungkin mereka tidak punya ibu seperti ibu saya yang pernah menangis karena saya, tetapi saya punya ibu yang pernah terlukai hatinya oleh saya dan saya berjanji  tidak akan mengulanginya lagi”

Sahabat, Allah selalu berpihak kepada mereka yang mau merubah nasibnya dengan usaha yang keras, strategi yang tepat, do’a yang khusuk dan ibadah yang sungguh-sungguh, dan inilah yang akhirnya Allah tetapkan pada saya saat itu, senyum indah itu akhirnya tersungging di bibir sang bunda, memang ada air mata di sana tetapi bukan air mata kecewa, melainkan air mata bangga dan bahagia. Bahagia karena anaknya berhasil menggapai impian, bangga karena anaknya bisa membuktikan bahwa ia bisa berprestasi. Tepat ranking 10 itulah yang akhirnya bisa saya persembahkan buat sang bunda.

Impian masuk 10 besar yang akhirnya tercapai ini menumbuhkan impian baru yang selama ini seakan takut untuk muncul, yaitu menaklukan persaingan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri berbasis teknologi paling bergengsi di Indonesia timur.

Impian ini awalnya menjadi impian yang terlalu besar bagi saya, seorang anak yang selalu berada di barisan belakang dalam prestasi akademiknya, bahkan mereka yang hampir selalu masuk ranking 10 besarpun ragu-ragu untuk memimpikannya, hanya anak-anak juara saja yang berani menyatakan impian ini, termasuk teman sebangku, yang tidak kenal lelah mendokrinkan impian besar ini di kepala saya.

Dan dokrinnya benar-benar ‘bekerja’, impian yang awalnya hanya khayalan ini kembali menggelorakan semangat, meledakkan potensi dan mensuplai energy tiada habis untuk belajar dan belajar lagi. Dan kembali Sang maha berkehendak memperlihatkan keadilan dan kasih sayangNYA, dari begitu banyak teman se-smu se-angkatan yang memilih ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) sebagai calon mitra belajarnya melalui ajang seleksi UMPTN, hanya 2 orang yang akhirnya benar-benar lolos seleksi, satu adalah teman sebangku yang selalu ranking 1 dari kelas 1 s/d 3 smu, satunya anak yang selalu berada di ranking urutan paling belakang dan hanya sekali masuk 10 besar yaitu saat kelulusan saja dan sayalah orangnya.

Sahabat, ibarat sebuah mobil, impian adalah pengemudianya, bahkan mobil secepat mobil-mobil F1 pun tidak akan bisa melaju dengan cepat jika tidak ada orang yang mengemudikan, menjalankan dan mengarahkannya. Mobil tersebut hanya akan diam di tempat menunggu mobil derek membawanya. Begitupun kita, meski kita dilengkapi dengan potensi dasar yang begitu dahsyat, kita tidak akan pernah meraih apapun dalam kehidupan ini jika kita tidak memiliki impian.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s